Jumat, 02 Oktober 2020

MAS GIBRAN RAKABUMING RAKA DALAM BUDAYA JAWA GAGRAG SURAKARTA

MAS GIBRAN RAKABUMING RAKA 
DALAM BUDAYA JAWA GAGRAG SURAKARTA


Dr. Purwadi, M.Hum; Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP.087864404347

A. Lila lan Legawa Kanggo Mulyaning Negara

Nama lengkapnya Gibran Rakabuming Raka. Asma kinarya japa, bahwasanya nama itu beserta dengan japa mantra harapan. Gibran ini juga nama penyair kaliber dunia. Rakabuming mengacu pada kokohnya jagad raya. Sedangka Raka merujuk pada aspek daya pangaribawa senioritas kasepuhan.

Dalam seni pedalangan sebutan Ingkang Raka nata ing negari Dwarawati, begitu familier. Raja Dwarawati ini dianggap sangat bijaksana, ahli siasat, sakti mandraguna, waskitha ngerti sakdurunge winarah. Kita percaya bahwa Mas Gibran nyandhang asma minulya ini beserta dengan kandungan filosofis. Jumbuh kang ginayuh sembada kang sinedya.

Bapaknya seorang besar dan tenar, Ir. H. Joko Widodo. Dalam lintasan sejarah Jawa ada nama Joko Tingkir, yang penuh dengan keteladanan, keutamaan, keluhuran, keagungan. Masyarakat Jawa yang tinggal di gunung agunung, dua adua, kutha akutha mengenal Joko Tingkir dengan penuh rasa kagum. Tembang megatruh memberi deskripsi yang agung dan anggun.

Megatruh

Sigra milir sang gethek sinangga bajul
kawan dasa kang njageni
ing ngarsa miwah ing pungkur
tanapi ing kanan kering
sang gethek lampahnya alon.

Perjalanan hidup Joko Tingkir mirip dengan kisah Joko Widodo. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ki Ageng Sela memberi bekal ngelmu satataning panembah jati. Ki Ageng Banyubiru memberi wejangan kawruh kasampurnan. Sabar sebagai penguasa, syukur sebagai rakyat. Wulangan lahir batin demi diusahakan murih padhanging sasmita.

Joko Tingkir atau Mas Karebet dibimbing oleh Ki Ageng Butuh yang mengajarkan jroning urip ana urup, jroning urup ana urip kang sejati. Itulah puncak rasa jati, sari rasa jati, sarira sajati. Sari rasa tunggal, sarira satunggal, naga sari tunggal, nagara satunggal sebagaimana ungkapan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan kenegaraan yang sangat dihayati oleh Ir. H. Joko Widodo. Lila lan legawa kanggo mulyaning negara.

Sarjana winasis yang terdiri dari Ki Ageng Panjawi, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Juru Martani, Ki Ageng Karanglo, Ki Ageng Pringapus, Ki Ageng Giring menjadi penyokong utama Joko Tingkir. Berkat jiwa kebangsaan dan sifat kerakyatan pada tahun 1546 Joko Tingkir dinobatkan menjadi raja Kraton Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Joko Tingkir dan Joko Widodo mengutamakan konsep labuh labet.

Trahing kusuma, rembesing madu, wijining amaratapa, tedhaking andana warih. Semangat kebangsaan ini tentu mengalir dalam tubuh Mas Gibran. Kacang ora ninggal lanjaran, perjuangan Ir. H. Joko Widodo diteruskan oleh Mas Gibran Rakabuming Raka dengan sepenuh hati. Konsep kebangsaan dan kerakyatan menjadi landasan pergaulan. Budi luhur kulinakna, watak asor singkirana.

Peran sang ibu tentu juga besar pada kepribadian Mas Gibran. Ibu Iriana Joko Widodo ibarat mustikaning putri, tetungguling widodari. Beliau memang ayu hayu rahayu. Ibunya Mas Gibran ini telah menjadi warangka keluarga Joko Widodo. Warangka manjing curiga. Dengan selamat sentosa Bu Iriana mengantarkan ke depan pintu gerbang kejayaan.

Siji garising pasthi, loro temune jodho, telu tumurune wahyu, papat mundhaking pangkat, lima tibaning begja. Mas Gibran Rakabuming Raka lahir di Surakarta pada tanggal 1 Oktober 1987.  Bertemu jodoh dengan Mbak Selvi Ananda, melahirkan Jan Ethes Srinarendra dan Lembah Manah. Lengkap sudah kawibawan, kamulyan, kabagyan, pasangan Joko Widodo dan Iriana.

Kehadiran Bobby Nasution yang berjodoh dengan Kahiyang Ayu membuktikan jalur pluralisme. Joko Widodo punya menantu orang Batak memperkokoh praktek keberagaman keluarga. Kaesang Pengarep adalah adik bungsu Gibran. Semua anggota trah Joko Widodo saiyek saeka praya, mendukung penuh langkah Mas Gibran. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Siaga ing diri sawega ing gati, gotong royong lan gugur gunung murih arum kuncarane negari.
  
Gugur Gunung

Ayo kanca ayo kanca ngayahi karyaning praja
Kono-kene kono-kene gugur gunung tandang gawe
Sayuk sayuk rukun bebarengan ro kancane
Lila lan legawa kanggo mulyaning negara

Siji loro telu papat bareng maju papat-papat
Diulang-ulungake murih  enggal rampunge
Holopis kuntul baris holopis kuntul baris
Holopis kuntul baris holopis kuntul baris

B. Andhap Asor Wani Ngalah Luhur Wekasane 

Kota Surakarta merupakan bumi kelahiran Mas Gibran. Sura berarti berani, Karta berarti berkarya. Hidup di lingkungan kota Surakarta seharusnya berani untuk berkarya. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Wong Solo paham benar arti wirya arta winasis.

Dalam kawruh kejawen diajarkan unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa. Leluhur Surakarta memberi wejangan tentang pentingnya seseorang memiliki wirya arta winasis. Wirya kekuasaan, arta keuangan, winasis kepandaian. Ketiganya diterangkan dalam bait pangkur dengan begitu indahnya.

Pangkur 
Kang mangkono iku tandha
Yen janma diweruh wajibing urip
Nggugu wulang nut ing kukum
Tetep nora kamalan
Arep mangan gelem nyambut karyanipun
Kang utang esah sanyata
Kang kalal ing lahir batin.

Bonggan kang tan merlokena
Mungguh ugering ngaurip
Uripe lan tri prakara
Wirya arta tri winasis
Kalamun kongsi sepi
Saka wilangan tetelu
Telas tilasing janma
Aji godhong jati aking
Temah papa papariman ngulandara.

Priyayi Solo menghayati benar makna pentingnya wirya arta winasis. Hal ini sebagai cara untuk meningkatkan kualitas kerja dan produktifitas karya. Pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan mendatangkan kesejahteraan. Keluarga mas Gibran memahami benar etos kerja serta semangat berkreatifitas. Orang hidup sudah sepatutnya mempunyai ketrampilan, kepandaian, dan kekayaan. Dengan harapan dirinya akan diperhitungkan dalam pergaulan. Dengan belajar dan bekerja tekun seseorang akan dihormati. 

Wirya arta winasis, ketiganya berfungsi sosial, yakni  memayu hayuning bawana, mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi. Amemangun karyenak tyasing sesama. Antar sesama hidup perlu kerja sama dan gotong royong yang saling menguntungkan. Welas asih marang sapadha-padha.

Dasar-dasar kebudayaan dihayati benar oleh Mas Gibran Rakabuming Raka. Beliau selalu ingat wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga lewat cerita pedalangan. Pemimpin harus menjunjung tinggi etika ber budi bawa laksana. Maknanya seorang pemimpin hendaknya dekat dengan rakyat, mau sambang sambung, sawang srawung, tulung tinulung. Di depan rakyat jangan sampai adigang adigung adiguna. Keteladanan dari Joko Widodo dengan sikap andhap asor wani ngalah luhur wekasane.

Cakepan waranggana sering mengumandangkan ungkapan titenana wong cidra mangsa langgenga, yang mengisyaratkan supaya manusia punya loyalitas dan dedikasi. Sikap rendah hati gagrag Solo sudah mengakar kuat di hati sanubari masyarakat. Setiap ada acara macapatan, kerap terdengar lantunan tembang mijil. Isinya tentang sopan santun tata krama.

Mijil

Dedalane guna lawan sekti
kudu andhap asor
wani ngalah luhur wekasane
tumungkula yen dipun dukani
bapang den simpangi
ana catur mungkur.

Kepemimpinan yang humanis kultural itu sudah dilaksanakan oleh Ir. H. Joko Widodo.  Mas Gibran tinggal melanjutkan dengan penuh kehati-hatian. Baik kiranya menggunakan ajaran trilogi berikut. Rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani.

Dibangunnya infrastruktur di seluruh pelosok tanah air adalah karya nyata. Ir.H. Joko Widodo bertekad kuat untuk melakukan pemerataan hasil-hasil pembangunan. Mas Gibran mempunyai kewajiban meneruskan perjuangan luhur sang ayah. Mendhem jero mikul dhuwur, dengan tiada kenal lelah mengabdi pada ibu pertiwi.

Surakarta, Jakarta Indonesia adalah jalur pengabdian. Dari Surakarta tingkah laku pemimpin disaksikan gunung Lawu, gunung Kendheng, gunung Merapi, gunung Merbabu dan gunung Sewu. Air mengalir dari umbul Cokro dan umbul Pengging bertemu di Kali Larangan. Bersama-sama mengalir ke kota Solo dan bergabung di Bengawan Solo. Tepat sekali komponis besar, Gesang yang telah dikenal di seluruh dunia.

Bengawan Solo

Bengawan Solo, riwayatmu ini, 
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau, tak brapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh.
Mata airmu dari Solo terkurung gunung Seribu
Air mengalir sampai jauh akhirnya ke laut.
Itu perahu riwayatnya dulu
Kaum dagang selalu naik itu perahu.

Bengawan Solo menampung aliran air dari 20 kabupaten. Panjangnya melampaui wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dulu berguna untuk alat transportasi. Para pedagang hilir mudik. Berbahagialah warga Solo yang memiliki sumber mata air yang jernih. Kejernihan air yang mengalir di Solo selaras dengan keplek ilat atau wisata kuliner. Mas Gibran turun ke lapangan demi mewujudkan Solo sebagai pusatnya wisata kuliner. Semangat untuk mengembangkan wisata kuliner ini berarti juga mengembangkan mutu industri ekonomi kretif.

Peluang usaha dilakukan dengan sangat tepat dan cepat oleh mas Gibran, demi berputarnya roda perekonomian. Pusat perekonomian di kota Solo setiap saat berkembang pesat. Perdaganan, pertanian, perkebunan, kerajinan, berlangsung terus menerus. Pagi siang sore malam kota Solo selalu sibuk beraktifitas, sesuai dengan ungkapan estetis tembang Solo Berseri : bersih sehat rapi indah.

Solo Berseri

Berseri berseri bersih sehat rapi indah
Pancen nyata pra kanca kanggo srana
Mujudake Surakarta kutha budaya
Pariwisata lan olah raga

Wus misuwur sedulur njaban rangkah 
Wus genah ngondhangake kutha Sala tanpa nendra
Dadya budayane bangsa mrih kuncara
Berseri berseri bersih sehat rapi indah

Mas Gibran Rakabuming Raka kerap mendengar kumandangnya lelagon Solo Berseri : bersih sehat rapi indah. Kota Surakarta terkenal sebagai pusat budaya Jawa. Di sana tersedia berbagai macam produk seni dan kerajinan. Cocok untuk tujuan wisata.  Surakarta harus dijaga kelestariannya demi menjaga kualitas kebudayaan. Berseri merupakan singkatan bersih sehat rapi indah. Penduduk timur kali Opak memiliki orientasi spiritual kota Surakarta. Kita jaga supaya Surakarta tetap menjadi sumber budaya. Bengawan Solo yang mengalir jauh menjadi tanda jauh dan luasnya pengaruh keagungan budaya gagrag Surakarta.

Pasar Gedhe, Pasar Klewer, Pasar Legi menjadi kawah candradimuka bagi Mas Gibran Rakabuming  Raka. Dari tempat yang dekat Mas Gibran belajar dan menerapkan konsep ekonomi kerakyatan. Lamat-lamat Mas Gibran sering meresapi janturan wayang purwa secara tulus. Janturan pedalangan ini dijadikan mas Gibran Rakabuming Raka untuk mengabdi pada nusa dan bangsa agar terwujud, negara kang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Rabu, 30 September 2020

BUSANA PENGANTIN KARATON SURAKARTA HADININGRAT

BUSANA PENGANTIN KARATON SURAKARTA HADININGRAT

Oleh Dr Purwadi M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA

A. Ngadi Busana. 

Peragaan busana Karaton Surakarta Hadiningrat berlangsung pada hari Rabu, 30 September 2020. Bertempat di hotel Swiss belinn saripetojo, Laweyan Surakarta. Kegiatan budaya ini dirancang dengan urut patut. 

Selaku narasumber telah hadir Dra GKR Wandansari, M.Pd, Pengageng Sasana Wilapa. Juga memberi sesorah yaitu Drs KPH Radityo Lintang sasongko, dwija sanggar pambiwara. GKR Timoer Rumbay Kusumadewayani, putri Sinuwun Paku Buwana XIII. Minangka panglaras acara, RM Restu B. setiawan S.Pd, M.Pd. Beliau mewarisi kebudayaan Karaton Surakarta Hadiningrat sejak berdiri tahun 1745.

Titi laksana hadicara ini dilaksanakan oleh DPC Harpi melati kota surakarta. Dene pendherek saking Paguyuban Kawula Karaton Surakarta, PAKASA pang Nganjuk dipimpin KRT Sukoco Madunagoro , Harpi Yogyakarta, Putri narpa Wandawa, perguruan tinggi, LOKANTARA, seniman, budayawan. Dengan maksud mengusahakan kuncaraning budaya Jawi. Adat Istiadat supaya berjalan sesuai dengan Pakem peugeran. 

Salah satu peserta bernama Nyi Behi Sunarmi Sekar Rukmi. Beliau aktif dalem kegiatan harfi wilayah Jawa Timur. Sering membina para pemilik usaha rias manten dan salon, demi meningkatnya industri ekonomi kreatif. Pemikirannya termasuk terpandang dan populer. Karena menggunakan teknik rias yang genep dan genah. 

Sejarah menjadi referensi penting. Tahun 1752 Sinuwun Paku Buwana III mengarahkan tata busana penganten. Waktu itu dilengkapi dengan busana teater panggung. Ajining dhiri saka lathi, Ajining raga saka busana. Artinya martabat seseorang ditentukan perkataan. Kehormatan seseorang karena busana yang dikenakan. Orang Jawa begitu peduli pada ulat, patrap lan pangucap. 

Adanya peragaan busana ini bisa menjadi contoh bagi pelaku rias manten, sutradara teater, bisnisman, penggerak ekonomi kreatif. Pedoman pakaian hendaknya menurut paugeran yang sudah baku. 


Berbusana yang pantas memang menjadi perhatian yang saksama. Sepanjang peradaban Jawa, Karaton Surakarta Hadiningrat peduli amat dengan usaha Ngadi salira, ngadi busana. Pelatihan dan pembelajaran tata busana diajarkan secara formal. Angger Angger tata busana dengan ragam pakaian. Serat anggitan dalem serat warni warni dibaca sebagai pedoman utama. 

Wajar sekali kegemilangan busana gagrag Karaton Surakarta Hadiningrat mencar ke segala penjuru. Nyata bahwa kemewahan ini dapat memperkokoh jatidiri dan kepribadian bangsa. Generasi penerus tinggal mempelajari serta melestarikan. Supaya masa depan budaya bertambah jaya. 

B. Ajining Raga saka Busana. 

Para narasumber memang punya otoritas tentang budaya Karaton Surakarta Hadiningrat. Beliau sehari hari memang berkecimpung dalam kehidupan adat Istiadat Kraton. Mulai dari upacara, ritual dan pengajaran. Melalui lembaga pambiwara adat Istiadat diajarkan secara terprogram dan terpadu. 

Dalam bidang kesenian boleh dikata sangat mumpuni. Pusaka Bedaya ketawang dilakukan tiap upacara jumenengan. Pakaian diatur dengan ketat. Karawitan Karaton untuk memperkokoh legitimasi kedudukan kerajaan. Budaya Karaton Surakarta bersifat sakral. 

Saat ini pembahasan tentang busana penganten mawi ageman dodot basahan atau kampuhan. Basahan berarti busana kebesaran. Busana keprabon ini untuk tata cara resmi kenegaraan. 

Ageman dodotan terdiri dari gerbong kandhen, ngumbar kunca, sampir kunca, kepuh ukel. Masing masing digunakan dalam tingkatan herarkis. 


Sebetulnya busana basahan merupakan derivasi pusaka Bedaya ketawang. Misalnya samparan, udhet cindhe puspa cakar, kelat bahu. Mirid busana Bedaya ketawang, maka harus dengan sikap berhati hati. Masyarakat umum bisa meniru, setelah adanya palilah batin. 

Sinuwun Paku Buwana IX, raja Karaton Surakarta tahun 1861 - 1893, memberi wejangan bahwa busana untuk memperoleh drajat Agung. Busana juga untuk membangun karakter manusia paripurna. 

Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya. Sesanti Sinuwun Paku Buwana X ini diucapkan tahun 1893. Makna filosofis perabot busana penganten kakung hendaknya dipahami. Panunggul mathak biru sekar ganda. Nyamat, tumpengan, tajug, dhebelan. Sumping sekat melati, kalung ulur, dodot gadhung melati motif alas alasan. Ukup, kloncer, cathok, buntal, lancingan cindhe puspa mawi seret, sorot tanpa tumpal. Wangkingan warangka ladrang capu, kolong keris. 


Adapun perabot busana penganten basahan putri. Ukel bokor mengkurep, rajut sekar melati acakrik kawung, garudha mungkur, sokan, cunfhuk mentul alas alasan. Cundhuk jungkat, centhung, sekat sintingan, sengkang ronyok, sangsangan wulan tumanggal. Sekar tiba wentis, dodot gadung mekati alas alasan, udhet cindhe puspa tanpa tumpal. Sampatan cibdhe puspa tanpa tumpal. Slepe, pending, buntal, gelang. 

Pada tahun 1993 Sinuwun Paku Buwana XII menyelenggarakan pawiwahan agung. GKR Koes Murtiyah menikah dengan KPH Wirabumi. Perhelatan ini dengan juru rias mandar paes, Puro Pakualaman. Turut mandhegani rias manten yaitu KRAY Anglingkusumo. Upacara pernikahan agung berjalan rahayu widada. 

Perlu diketahui pula busana penganten beskap takwa, kebaya panjang. Perabot penganten kakung yaitu panunggul kanigaran cemeng, Nyamat sekar katu. Beskap takwa mawi plisir baludiran, kalung ulur, sabuk, bara cindhe dengan gebyok kembang suruh. Epek, timang, lerep, nyamping dringin, canela, slop, dhuwung warangka ladrang, kolong keris.

Sedangkan perabot busana penganten putri kebaya panjang. Ukel ageng bangun tulak.pantek, bris panetep mawi sempyok, sokan. Cundhuk mentul sekaran, cunfhuk jungkat, sangsangan, bros semyok, kebaya panjang mawi plisir baludiran. Sekar tiba dhadha, gelang, nyampung dringin, cindhe, canela, slop. Para putri amat memerlukan pengetahuan busana keputren. 

GKR Wandansari menguraikan adat Istiadat Karaton Surakarta Hadiningrat secara turun tumurun. KPH Radityo Lintang Sasongko menjelaskan trep trepan rias penganten di lapangan. GKR Rumbai Kusuma Dewayani berbagi pengalaman tentang suasana keputren. Beliau menjelaskan urutan upacara pernikahan putri raja. Kepakaran Trah Mataram yang tetap lestari. Ndhudhah ageman penganten klasik Karaton Surakarta Hadiningrat memberi wawasan yang penuh makna. 

Berbekal pelatihan, ceramah dan diskusi kali ini diharap cak cakan busana penganten sesuai dengan paugeran. Penggunaan busana ini begitu luwes, dhemes, kewes, pantes. Pakem warisan leluhur tentu membawa berkah. 

Ditulis oleh Dr Purwadi M.Hum. 30 September 2020. Hp 087864404347

Senin, 28 September 2020

SEJARAH KYAI AGENG HENIS LELUHUR KRATON MATARAM

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA


A. Pepundhen Para Nata ing Tanah Jawi

Ki Ageng Henis miyos rikala jaman Demak tahun 1493. Peputra Ki Ageng  Pemahanan. Lajeng nurunaken Kanjeng Panembahan Senapati, narendra Mataram tahun 1582 – 1601. Dene ingkang rama Ki Ageng Henis asma Ki Ageng Sela, putranipun Ki Ageng Getas Pendawa. Silsilah ing nginggil Ki Ageng Getas Pendawa putranipun Raden Bondan Kejawan patutan kaliyan Dewi Nawangsih.

Saking alur Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub. Dene alur saking Raden Bondan Kejawan tedhak turun Prabu Brawijaya V, narendra ing karaton Majapahit pungkasan jumeneng nata Majapahit tahun 1478. Ki  Ageng Henis sayektos trahing kusuma rembesing madu, wijiling atapa, tedhaking andana warih.

Miturut layang sejarah Ki Ageng  Henis seda tahun 1563, jaman Kasultanan Pajang. Tumuli kapetak ing pajimatan Laweyan. Ki Ageng Pamanahan putra Ki Ageng Henis mapan ing tlatah Manahan. Ing tembe dadi pangarsa kang pinercaya dening Kanjeng Sultan Hadiwijaya utawa Jaka Tingkir. Ki Ageng Pamanahan ginanjar Alas Mentaok. Ki Ageng Penjawi ginanjar bumi Pati.

Putra Pamanahan asma Ngabehi Loring Pasar utawa Danang Sutawijaya. Ing tembe jumeneng nata ing Negeri Mataram, kanthi jejuluk Panembahan Senapati. Garwa prameswari asma Ratu Waskitha Jawi, putri Adipati Pati, Ki Ageng Panjawi. Miyos putra kakung lumintir keprabon jejuluk Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati. Jumeneng nata ing Mataram tahun 1601 – 1613.

Sabanjure Sinuwun Prabu Hadi  Hanyakrawati anggarwa Ratu Banuwati, putri Pangeran Benawa Pajang. Kapernah wayah Sultan Hadiwijaya. Palakrama iku nuli miyos Raden Mas Jatmika. Ing tembe jumeneng nata ing Mataram tahun 1613 – 1645, kanthi jejuluk Sinuwun Sultan Agung Prabu Hanyakra Kusuma. Keprabon Mataram dibacutake denin Sinuwun Amangkurat Agung 1645 – 1677, Sinuwun Amangkurat Amral 1677 – 1705, Sinuwun Amangkurat Mas 1703 -1708, Sinuwun Paku Buwana I 1708 – 1719, Sinuwun Paku Buwana II 1719 – 1726, Sinuwun Paku Buwana III 1726 – 1749.

Wewangunan ing Pajimatan Ki Ageng Henis dipun yasa dening Sinuwun Amangkurat Amral wiwit tahun 1677. Nalika semanten kutha negari Mataram pindhah saking Plered dumugi Kartasura. Pangangkah mendhem jero mikul dhuwur, ngalap berkah para leluhur.

Pindhahan kraton Kartasura dhateng Surakarta tanggal 17 Sura 1745. Sinuwun Paku Buwana II nyuwun idi palilah dhumateng Ki Ageng Henis, murih manggihi suka basuki. Pindhahan negari dipun pandhegani dening  Tumenggung Hanggawangsa. Wilujengan ing pasareyan Ki Ageng Henis kanthi titi premati.

Saben wulan Ruwah para darah nata turun Mataram sami sowan. Tata cara nyadran ing Pajimatan Ki Ageng Henis lumampah kadherekaken dening abdi dalem sentana tuwin pengageng karaton. Mugi rahayu kang sami pinanggih.
       
B. Tata Cara ing Pasareyan Laweyan

Paugeran sampun netepaken bilih makam Ki Ageng Henis minangka cagar budaya. Pratelan punika adhedhasar keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta nomor 646/116/1997. Wondene cagar budaya No. 01 63/F/Lw/2012 Makam Ki Ageng Henis.

Katrangan salajengipun bilih : cagar budaya ini dilindungi oleh Undang-undang Republik Indonesia No. 11 tahun 2010 tentang cagar budaya. Surakarta, Nopember 2012. Terang trewaca bilih pasareyan pikantuk kawigatosan saking pemerintah. Landhasan hukum wigatos sanget murih lestarining tata cara ingkang sampun lumampah.

Pranatan sowan pasareyan/pajimatan kagungan dalem karaton Surakarta Hadiningrat. Dhawuh dhumateng abdi dalem juru kunci pajimatan.
1. Kori mlebet pajimatan kedah dipun kunci.
2. Para peziarah kedah lapur juru kunci.
3. Peziarah kedah lepas srandal, sepatu, sarung.
4. Peziarah kedah saged njagi ketertiban, kesopanan, kebersihan, ngisi buku tamu.
5. Ngisi kotak amal sakeparengipun/sukarela, juru kunci.

Katitimangsan 1 Desember 2004, pengageng Yogiswara, GPH Chayaningrat.
Beteng tembok kandel ngubengi pasareyan. Ngajengipun lepen bening. Sisih ler masjid. Palereman juru kunci rinengga sesekaran. Joglo limasan kanan kering, papan kagem ngaso peziarah. Gapura kembar ketingal kukuh bakuh njenggreng mrebawani.

Trah para nata ingkang kaprenah wayah kagungan wewenang sumare ing pasareyan Ki Ageng Henis. Rikala tanggal 26 September 2020 utawi 8 Sapar 1954 Jimakir wonten ingkang nandhang dhuhkita. KPH Sardiatmo Brotoadiningrat marak sumiwi ing Ngarsanipun Allah SWT. Panjenenganipun wayah dalem Sinuwun Paku Buwana X. Ingkang ibu asma GKR Brotodiningrat, putri dalem ingkang kagungan keprigelan nyerat Rante Mas Sejarah Karaton Mataram.


Wiwit jam 12.30 para peziarah andalidir dhateng pasareyan. Sami dandos busana kejawen jangkep, tanpa wangkingan. Tata cara ingkang tinamtu, sowan ing pasareyan boten pareng ngagem dhuwung.  Putri ngagem nyamping, sanggulan, kebaya cemeng. Saperangan ngronce sekar melathi, nengga rawuhing ponang layon. Lenggah lesehan kaliyan kipas-kipas. Amargi hawa sawetawis sumuk panas sumeles.

Pratelan saking Bendara Raden Ayu Retno Handayani, ingkang sumare ing pajimatan kaprenah wayah dalem ingkang Sinuwun. Wayah buyut mapan ing sasana Ngendhen.  Mekaten sapiturutipun. Pasareyan Ngendhen kagem tedhak turun buyut. Saking karaton Surakarta watawis 5 km arah ngilen. Abdi dalem juru kunci ugi dipun paringi papan piyambak, menawi sampun dugi wancinipun surud. Mapan cerak kaliyan pasareyan Ngendhen. 

Mungguhing penghayat kejawen pasareyan Laweyan nami wingit. Saben dalu wonten priyayi tuguran. Lek-lekan minangka sarana tirakatan. Pamikiripun pikantuk sawab kawibawan. Tedhak turuning nata tartamtu kagungan daya linuwih. Wungon ngantos wanci parak esuk. Para-para ingkang kagungan hajat sami ndhedheku ing pasareyan Ki Ageng Henis Laweyan megeng cipta murih kasinungan drajat pangkat semat. 

Ditulis oleh Dr. Purwadi, M.Hum, 28 September 2020 
Alamat: Jl. Kakap Raya 36 Minomartani, Yogyakarta, Hp: 0878 6440 4347

AJARAN SERAT WULANGREH YASAN SINUWUN PAKU BUWANA IV

Dr. Purwadi, M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA. 

A. Sastra Piwulang Minangka Pandam Pandoming Agesang. 

Wedharan ingkang wigati rinumpaka lumantar sastra piwulang. Para pujangga minangka pandam pandom panduming dumadi ing babagan pangawikan. Kadosta serat Wulangreh karipta dening Kanjeng Sinuwun Sri Susuhunan Paku Buwana IV.

Panjenenganpun Sahandap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Paku Buwana IV, miyos dinten Kamis  Wage, 18 Rabi’ul Akhir 1694 utawi 2 September 1768. Narendra gung binathara bau dhendha nyakrawati punika jumeneng nata ing kraton Surakarta Hadiningrat dinten Senin Paing, 28 Besar 1714, utawi 29 September 1788.

Olah gelaring kasusastran sesarengan kaliyan mekaring kabudayan, pamarintahan, pambangunan, kasantosan. Karaton Surakarta Hadiningrat nami ngejayeng jagad raya. Surud  dalem Sinuwun Paku Buwana IV dinten Senin Paing, 25 Besar 1747 utawi 2 Oktober 1820.

Nalika ngrumpaka serat Wulangreh tahun 1789, Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV tansah sinengkuyung dening garwa pramesari Gusti Kanjeng Ratu Kencono Wungu. Putri Bupati Pamekasan punika timuripun asma Raden Ajeng Sukaptinah. Isinipun serat Wulangreh kabiwarakaken dening warangka dalem Patih Sosrodiningrat II.  Nate kawaos tahun 1795 ing Pendhapi Kadipaten Surabaya. 

Misuwuring serat wulangreh dugi jaban rangkah. Sekar dhandhanggula murwakani babaran Serat Wulangreh. Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV paring sesorah babagan unggah ungguh, tata krami, kanthi andhap asor. Pethikan ing ngandhap menika saged kagem gegebengan. . 

Dhandhanggula 

Pamedharing wasitaning ati, 
cumanthaka aniru pujangga, 
dahat mudha ing batine, nanging kedah ginunggung, 
datan wruh yen keh kang ngesemi, 
ameksa angrumpaka, 
basa kang kalantur, 
tutur kang katula-katula, 
tinalaten rinuruh kalawan ririh, 
mrih padhanging sasmita.

Sasmitaning ngurip puniki, mapan ewuh yen tan weruha, tan jumeneng ing uripe, akeh kang ngaku aku, pangrasane sampun utami, tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu, 
rasaning rasa punika, 
upayanen darapon sampurneng diri, 
ing kauripan nira.

Lamun sira anggeguru kaki, 
amiliha manusia kang nyata, 
ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing hukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang sampun mungkul, 
tan mikir pawehing liyan, iku pantes sira guranana kaki, 
sartane kawruhana.

Lajeng tegesipun Serat Wulangreh menika menapa? Menggahing tiyang Jawi Serat Wulangreh punika dados sanguning agesang. Serat tegesipun pustaka ingkang dipun anggit, minangka wedharing raos tuwin angen-angen. Ngrumpaka serat kangge ngudhar gagasan sarta pratelan. Kawruh ingkang sae prayogi dipun ripta awujud serat. Pamrihipun sajiwa kaliyan ingkang maos. 

Dene tembung wulang saemper kaliyan ajaran. Amila lajeng wonten tetembungan wulang wuruk, wulangan, wejangan, wedharan. Pratelan tumuju kesaenan winastan wulangan, sabarang tindak sapecak, sembur tutur uwur, wewarah kautaman ingkang tinatar ugi kawastanan wulangan. Tembung wulang kerep dipun agem ing sadhengah papan.

Katrangan tembung reh magepokan kaliyan pranatan. Reh tegesipun mranata, mandhegani, ngupakara, mbudidaya, ngrekadaya. Tembung reh ugi gadhah pikajeng barang sakalir. Upaminipun rehing kadarman. Tegesipun babagan darma bakti, labuh labet, kabecikan tumraping bebrayan. Reh tata krami, tegesipun paugeran babagan kasusilan. Ngereh tegesipun nyepeng wewenang adhedhasar panguwaos. 

Wonten sejarah tembung reh asring kagem mratelakaken satunggaling panguwaos negari. Upaminipun wiwit tahun 1546 Kanjeng Sultan Hadiwijaya jumeneng nata ing Pajang. Panjenenganipun kagungan wewenang ngereh para Adipati ing Tanah Jawi. Conto sanesipun rikala tahun 1582 Kanjeng Panembahan Senapati kagungan panguwaos ngereh Negari Mataram. Cak-cakaning tembung reh ing katrangan punika wonten gandhengipun kaliyan tata praja. 

B. Murih Lantiping Panggrahita. 

Kanthi terang trewaca Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV mratelakaken tata cara gesang ingkang utami. Murih sampurnaning gesang, sadhengah putra wayah prayogi purun nggegulang dhiri. Caranipun mawi cegah dhahar lawan guling. Wedharan kala wau kapacak wonten pupuh sekar kinanthi ingkang cocok kalian pangretosan. 

Kinanthi 

Padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, kaprawiran den-kaesthi, 
pesunen sariranira sudanen cegah dhahar lawan guling.

Dadiya lakunireku, 
cegah dhahar lawan guling, lan aja kasukan-sukan, 
anganggowa sawatawis, 
nora wurung ngajak-ajak, 
satemah nular ing batin.

Yen wis tinitah wong agung, aja sira ngugung diri, ywa paliket lan wong ala, kang ala lakunireki, nora wurung ngajak-ajak 
atemahan nenulari.

Wosing serat Wulangreh pancen karumpaka kanthi ancas ingkang luhur. Sinuwun Paku Buwana IV yasa Serat Wulangreh kanthi basa prasaja, sastranipun edi peni, isinipun adi luhung. Wulangan salebeting serat Wulangreh ugi saperangan kababar saklebeting serat Centhini yasan Sinuwun Paku Buwana V, ingkang jumeneng nata tahun 1820 – 1823. Serat Centhini kaserat megah mewah. 

Kaserat mawi sekar macapat, kaangkah serat Wulangreh langkung gancar dados pamulangan. Dr Djoko Dwiyanto lan Dr Sukatmi Sesantina tahun 2010 karem sanget methik sastra piwulang. Amargi gampil kangge apalan, cocok kaliyan swasana kejawen. Mendhet patuladhan saking tanem tuwuh jagad gumelar. Jamak limrah menawi dipun waos lajeng karaos miraos. Sekar gambuh ing ngandhap punika paring wedharan, supados tebih saking tindak adigang, adigung, adiguna. 

Gambuh
   
Sekar gambuh ping catur, kang cinatur polah kang kelantur, 
tanpa tutur katula-tula katali, 
kadalu-warsa katutuh, kapatuh pan dadi awon. 

Aja nganti kabanjur, 
sabarang polah kang nora jujur, yen kabanjur sayekti kojur tan becik, 
becik ngupaya iku, 
ing pitutur ingkang yektos. 

Tutur bener puniku,
sayektine apantes tiniru,nadyan metu saking wong sudra papeki,lamun becik nggone muruk,
iku pantes sira anggo.

Ana pocapanipun,
adiguna adigang adigung,pan adigang kidang adigung pan esthi,adiguna ula iku,
telu pisan mati sampyoh.

Si Kidang. umbagipun,
ngendelaken kebat lumpatipun,pan si gajah ngendelaken ageng inggil, ula ngendelaken iku, 
mandine kalamun nyakot.

Iku upaminipun,
aja ngendelaken sira iku,suteng Nata iya sapa kumawani,
iku ambege wong digung,ing wasana dadi asor.

Sastra piwulang punika kawentar sanget. Sayektos serat Wulangreh dados piranti murih lantiping jiwa ingkang luhuring budi. Tahun 2015 serat Wulangreh karembag ing Sanggar seni Pustaka Laras. Lumantar pawiyatan lan pakempalan kabudayan, serat Wulangreh sangsaya tumangkar ngrembaka arum kuncara. 

Kaserat dening Dr Purwadi M.Hum. 21 September 2020. Hp 087864404347

SERAT WEDHATAMA YASAN DALEM SRI MANGKUNEGARA IV

Dr. Purwadi, M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA. 

A. Patuladhan Prayogi. 

Kasusastran Jawi ngalami jaman kencana rukmi. Sesarengan kaliyan tuwuhing Reriptan adi luhung  edi peni. Tuladhanipun serat Wedhatana. 

Bebukaning serat Wedhatama yasan dalem KGPAA Mangkunegara IV mawi sekar pangkur. Ing pangajab dados seserepan kagem nggulawenthah putra wayah, sentana, nayaka, abdi dalem sarta kawula. 

Pangkur 

Mingkar mingkuring angkara, Akarana karenan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung. Sinuba sinukarta, Mrih ketarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap ing tanah Jawa, Agama ageming aji.

Jinejer neng Wedhatama, Mrih tan kemba kembenganing pambudi. Mangka nadyan tuwa pikun.
Yen tan mikani rasa, 
Yekti sepi asepa lir sepah samun,
Samangsane pasamuan gonyak ganyuk nglilingsemi.

Menggah jagading kasusastran, serat wedhatama misuwur sanget. Perlu kawuningan ingkang nganggit. Asma Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Miyos rikala dinten Ahad tanggal 8 Sapar, tahun Jimakir, Windu Sancaka 1738 utawi 3 Maret 1811. Asma timur kanthi sesebatan Raden Mas Sudira.

Duk nalika dinten Sabtu Pahing, tanggal 20 Rejeb, tahun Dal 1759 utawi 1833, Raden Mas Sudira nambut silahing akrami. Pikantuk kaliyan Bandara Raden Ajeng Dhunuk.

 Sarampunging palakrama, Raden MasSudira lajeng kaganjar nami Raden Mas Arya Gandakusuma.
Wondene Raden Mas Sudira piyambak kapernah wayah buyut Kanjeng Sinuwun Paku Buwana III ingkang jumeneng nata ing karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1749 – 1788. Wiwit tanggal 24 Maret 1853 Raden Mas Sudira utawi Raden Mas Arya Gandakusuma winisuda anglenggahi dhampar kencana kanthi asma Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV.

 Ngasta pusaraning praja yuswa 42 tahun. Anglintir keprabon Sri Mangkunegara III ingkang sampun surud ing kasidan jati. Kanjeng Sri Mangkunegara IV tansah angengeti labuh labet ingkang sampun kaparingaken dening Kanjeng Panembahan Senapati, narendra gung binathara ing negari Metaram tahun 1582 - 1601.

Wedhatama mengku werdi ingkang lebet sanget. Wedha ateges wulang wuruk. Tama ateges kebecikan. Serat Wedhatana anggadhahi kitab ingkang ngemot piwucal kesaenan. Rinumpaka ing Sekar Sinom, KGPAA Mangkunegara IV asung penget dhumateng sagung jalma utama. . 

Sinom 

Nulada laku utama,
Tumrape wong Tanah Jawi, Wong agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senapati, Kepati amarsudi, Sudane hawa lan nepsu,
Pinesu tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sasama.

Para waranggana, wiyaga, penggerong remen sanget ngumandhangaken sekar sinom perijatha. Suwasana sigrak kawontenan gumyak. Sinambi keplok ambal ambalan. 

Narendra gung ing Mataram, Kanjeng Panembahan Senapati paring tepa palupi dhumateng Pangarsa pura. Jumeneng ing pura Mangkunegaran mawi sangu ingkang pepak. Kanjeng Adipati Mangkunegara IV kawentar kebak ngelmu sipating kawruh. Rinten dalu mersudi unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa.

 Wejangan luhur Pangeran Sambernyawa utawi Sri Mangkunegara I arupi tri darma : rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib hangrungkebi, mulat sarira angrasa wani.
Nyambet wedharan kautaman kala wau, Sri Mangkunegara IV lajeng mawas dhiri. Panjenganipun anggraita kanthi pangandikan ingkang mentes, luwes, gandhes, dhemes.

Panguwasa iku sinambung tembung kang tansah gumunggung ana gunung. Tan sinelak panguwasa iku uga nugraha, hamung cak-cakan kang kapacak, gumantung pakarti budi kang kapiji.

Yen ta panguwasa iku dadi panguripan, yekti lumebune mring angkara, andel rosa lan sora.

Nanging yen ta dadi kahuripan, yekti lumebune mring darma, andel rasa lan rumangsa.

Samengko keh-kehe yen wus kuwasa, kalimput lali, tan lila kelangan kalungguhan.
 Hamung yen wus gaduk ing rasa, candhak ing tata, aja wedi nampi panguwasa.

Anggenipun mranata Pura Mangkunegaran tansah anglenggahi paugeran. Mila tahun 1854 Sri Mangkunegara IV netepaken layang paugeran.

Sarupaning wong kang ngarah kalungguhan, dadia ngabehi, demang, utawa rangga apadene bekel ing mengko ora kalilan yen nganggo sarana dhuwit, utawa barang liyane kang ana pangajine.

Amung kasangkanana lumebu dadi abdi dalem prajurit utawa liyane, ana dene yen kelakon, oleh kalungguhan, ora kalilan yen anjaluk dhuwit pangunjung tuwin panganyar-anyar marang bawah kareh rekane.

Apa dene yen nerak pepacak iki, kang ambekteni ora oleh kalungguhan, kang anampani bekti utawa anjaluk dhuwit panjunjung tuwin panganyar-anyar bakal kena patrapan, kapirit saka ing prakarane. Penget kautaman menika dipun ugemi saestu. 

Pranatan praja kinarya tentreming bebrayan. Bener lan adil gegebenganipun para pengembating negari. 
     
B. Wirya Arta Winasis. 

Ing pundi papan panggenan Sri Mangkunegara IV asung penget dhateng para sentana dalah abdidalem kinen anggayuh kamulyan. Salebeting gesang perlu gadhah tigang perkawis supados jangkep genep lan genah anggenipun gesang bebrayan. Tigang perkawis menika sinebat wirya arta winasis. 

Sinom

Bonggan kang tan merlokena
mungguh ugering ngaurip
uripe lan tri prakara
wirya arta tri winasis
kalamun kongsi sepi
saka wilangan tetelu
telas tilasing janma
aji godhong jati aking
temah papa papariman ngulandara.

Sekar sinom Serat Wedhatama ing nginggil saged dados penget lan gegondhelan menggahing tiyang Jawi. Pura Mangkunegaran wiwit canja winih kopi rikala tahun 1814. Mapan ing kebon kopi Gondosini Bulukerta Wonogiri, tapel wates Ponorogo. Kebon kopi lajeng dipun tanem ing tlatah Tawangmangu lan Betal Nguntaranadi wonigiri. .

Mbudi daya murih gancaring wulu pametu, kados pratelan ing nginggil, cihna bilih Pura Mangkunegaran tetep ngugemi sesanggeman wirya, arta, winarni. Wirya arupi kalenggahan panguwaos.

Arta wonten sesambetan kaliyan dhuwit. Leres pemut arta daya. Wewangunan gegandhengan kaliyan guna pangawikan.
Tanggal 8 Desember 1861 Sri Mangkunegara IV mandhegani jejeging pabrik gula Colomadu. Asiling gendhis Colomadu dipun sade ngantos dugi Bandanaire, Singapura.

 Untung tikel matikel, anjalari Pura Mangkunegaran sugih bandha bandhu.
Kalejangan hadeging pabrik gula Tasikmadu rikala tanggal 4 Juni 1871. Giling tebu mawi mesin uap. Nami majeng sanget.

Amrih lancaring pabrik gendhis, perlu dipun sengkuyung olah tetanen ingkang trep lan leres. Upaminipun  tahun 1874 Sri Mangkunegara IV ngrekadaya nanem wit kina, kangge nanggulangi penyakit malaria. Papanipun ing Kalisaro Tawangmangu.
Kebon teh mapan ing Ngimorata Tawangmangu Karanganyar. Taneman teh wiwit tahun 1877. Kebon nila dipun tanem tahun 1892.

Pabrik gendhing wonten gandhengipun kaliyan tebu. Kebon tebu kangge lancaring pabrik gula.  Pura Mangkunegaran manggih jaman kencana rukmi. Wewangunan ketingal megah asri anglam-lami.

Pamedhan, regol, pendhapi, pringgitan, dalem ageng, patanen, dhimpil, senthongan, balai warni, pracimusana kawangunendah edi peni. Sedaya wewangunan kala wau betah prabeya kathah. Asiling kebon lan pabrik gula cekap kangge nyembadani kehing wragat.

Mekaring kasusastran, kabudayan, wewangunan langkung gampil menawi kasengkuyung wulu pametu. Pura Mangkunegaran sengkut gumregut mbudidaya kemakmuran. Kebon tebu lan mbako kagungan Pura Mangkunegaran jembar sanget.

Tanah kagungan Mangkunegaran mundhut saking tlatah Demak, Terbaya Semarang, Pendrikan. Tanah saking tlatah Demak kapundhut saking kulawarga Bupati Jepara RAA Tjitirtrasoma. Tanah ing Semarang saking kulawarga RAA Soerohadimanggolo tanggal 11 Juli 1878.
Gancaring pambudi daya babagan wulu pametu, Pura Mangkunegaran andhawuhi kawedanan Kartapraja. 

Bebadan punika mbawahi kemantren harta usaha ingkang mandhegani kebon kopi, tebu, mbako, nila, teh. Kemantren Hartamimpuna mandhegani arta lan pajek. Kemantren Reksadana mandhegani pakaryan bendahara praja.

Pakaryan ingkang kaperang kanthi tumata, anjalari sedaya pedamelan lancar. Wulu pametu lumampah sae. Kemakmuran Pura Mangkunegaran majeng, kajen keringan. Kapribaden dados ajeg jejeg. Mandhireng pribadi ing tata gesang. Ki Nartasabda nyebat kapribaden katimuran. 

C. Patitis ing Samukawis. 

Tata titi tatag tutug tatas titis mahanani rampunging gagasan. Titis ing samukawis dados kasunyatan menawi kinanthen ilmu ingkang pepak, kawruh ingkang jangkep, pernatan ingkang genah. 

Perkawis ingkang abot ruwet sembada dipun udhari mawi jangkeping kawruh. mila tiyang gesang wajib ngudi undhaking ngelmi. Sekar pucubg Serat Wedhatama nerangaken jangka jangkah ngelmu laku. 

Pocung 

Ngelmu iku kelakone kanthi laku . Lekase lawan kas . Tegese kas nyantosani , Setya budya pangekese dur angkara.

Angkara gung neng angga anggung gumulung,
Gegolonganira,
Triloka lekere kongsi,
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.

Beda lamun kang wus sungsem reh ngasamun,
Semune ngaksama,
Sasamane bangsa sisip, Sarwa sareh saking Mardi martatama.

Basa ngelmu mupakate lan panemu, Pasahe lan tapa, Yen satriya tanah Jawi, Kuna kuna kang ginilut tripakara.

Lila lamun kelangan nora gegetun,
Trima yen ketaman, 
Sakserik sameng dumadi, Tri legawa nalangsa srah ing Bathara. 

Pethikan pucung serat wedhatana ing inggil misuwur ing sadhengah papan. Kabudayan lumampah mawi paugeran. Sentana dalah abdi dalem maos serat wedhatama. Punapa malih para pangarsane praja, perlu sanget mersudi pitutur luhur. Adhedhasar wedharan kautaman, satemah Kawula ing padhusunan tut wuri handayani. 

Pangageng praja anut paugeran. Kawedanan among praja mbawahi kemantren sastralukita ingkang mandhegani olah kridhaning basa sastra. Kemantren reksapustaka mandhegani serat-serat wigatos. Cathetan agesang kadamel ngembuyung. 

Kemantren pamong siswa mandhegani pamulangan, kawruh, ilmu, seserepan.
Piranti ingkang karipta murih gancaring pamulangan, Pura Mangkunegaran yasa wayang madya. Dados sarana sumebaring Serat Witaradya ingkang paring pratelan negeri Mamenang lan Pengging. Wayang madya karipta tahun 1872. Budaya Jawi sangsaya mekar wangi salumahing bumi. 

Kawentar sinebat pujangga narpati, Sri Mangkunegara ugi ngripta Serat Warayagnya, Wirawiyata, Nayakawara, Darmawasita, Salokatama, Paliatma, Sriyatna, Tripama, Wedhatama, babad sinawung sekar, babad Wonogiri, Giripura, Tegalganda, serat Ngadani Pabrik Tasikmadu. Sedaya reriptan menika kangge njembaraken kawruh, undhaking seserepan. 

Reriptan sastra piwulang sanesipun inggih punika ngalamat, babad serenan, werdining bangsal tosan, ngadani Bendungan Tirta Swara, ngadani Bendungan Tambak Agung, Srikaton, Nyanjata Sangsam, Wonogiri Prangwadana, Werdining Pandel Mangkunegaran, Pesanggrahan Langenharjo, rerepen. Reriptan Sri Mangkunegara wau damel padhanging jagad raya. 

Sastra piwulang saestu mahanani bebrayan tumata, tumuli sami ayem tentrem. 
Sri Mangkunegara IV paring sesorah, murih gesang saged patitis ing samukawis. Wejangan wau sinebut astagina, inggih punika cacah wolu : 1) golek panggautan, 2) rigen, 3) gemi, 4) nastiti, 5) weruh ing petung, 6) taberi tatanya, 7) nyegah kayun, 8) nemen ing sedya.

Piwulang kala wau dipun landhesi watak kasudarman sregep, pethel, tegen, wekel, pangati-ati. Aja nganti sembrana nindakake panguripan. Yen wus kepleset, angel tangine. Wusana rekasa ing samubarang gawe. Weling utama mau prayoga wigatekna. Ing pangajab warga bangsa kakung putri pinanggih wilujeng lahir batos.

Kaserat Dr. Purwadi, M.Hum, 25 September 2020
Jl. Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta, hp. 087864404347

Minggu, 27 September 2020

RADEN AJENG SUKAPTINAH TOKOH WANITA PAMEKASAN

Oleh Dr Purwadi M.Hum, Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara, LOKANTARA

Raden Ajeng Sukaptinah adalah putri Bupati Pamekasan Kanjeng Adipati Cokrohadiningrat.
Kelak menjadi Permaisuri Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat yang memerintah tahun 1788 sampai 1820. Raden Ajeng Sukaptinah bergelar Kanjeng Ratu Kencono Wungu atau ratu Handoyowati. Posisi yang tinggi dan terhormat.

Generasi muda harus menghormati jasa leluhur. Sebagai Permaisuri raja Surakarta Hadiningrat, beliau cukup sukses melakukan pembangunan di segala bidang. Keturunannya juga jadi orang hebat. Dua putranya jadi raja yang terkenal. Yaitu Sinuwun Paku Buwono V memerintah tahun 1820 sampai 1823. Putra kedua yaitu Sinuwun Paku Buwono VII yang memerintah tahun 1830 sampai 1858. Tari Ludiro Madu merupakan tari sakral yang diciptakan untuk menghormati Raden Ajeng Sukaptinah. Beliau berjasa mendirikan Kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur setelah tahun 1800.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas. Raden Ajeng Sukaptinah itu Pahlawan besar dari Madura. Pernah menjadi komisaris pelabuhan Tanjung Perak dan Tanjung Emas. Punya pabrik garam Kalianget, usaha ukir ukiran Jepara, pabrik trasi Lasem Rembang dan pabrik kecap Purwodadi. Sukaptinah istri raja yang kaya raya.

Kebanggaan yang utama. Raden Ajeng Sukaptinah leluhur warga Madura yang telah mengharumkan nama ibu pertiwi. Beliau mewariskan keteladanan, keutamaan dan kebajikan. Jasmerah, jangan sekali kali meninggalkan sejarah.

Yogyakarta, 25 Juli 2020. 

Purwadi hp 087864404347

SEJARAH KABUPATEN BOGOR

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum; Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA

A. Bogor Berdiri pada Jaman Kerajaan Pajajaran.

Bogor berdiri pada tanggal 3 Juni 1483. Pendirinya adalah Kanjeng Sinuwun Sri Baduga Maharaja, raja agung yang berkuasa di Kerajaan Pajajaran. Sri Baduga Maharaja seorang pemimpin yang bijak bestari, merakyat, suka menolong, disiplin, pekerja keras, cerdas, berwawasan luas, berilmu tinggi dan sakti mandraguna.

Setiap bulan Sura Sri Baduga Maharaja melakukan tapa brata di Gunung Salak. Beserta dengan aparat kerajaan Pajajaran, beliau bersemedi untuk mendapat daya kesaktian. Para dewa kahyangan berdatangan untuk memberi anugerah agung kepada raja Pajajaran. Sri Baduga Maharaja mendapat pusaka keris dengan nama Kyai Pudak Arum. Pusaka ini menjadi andalan bagi kerajaan Pajajaran. Demi keselamatan negeri, pusaka keris Kyai Pudak Arum dikirap dengan kereta kencana.

Kata Bogor berarti bolongan yang ditegor. Sri Baduga Maharaja membuat bolongan dari tanah yang ditegor. Hasilnya berupa aliran sungai yang mengalir teratur sebagai sarana transportasi, irigasi dan rekreasi. Pada tahun 1483 Sri Baduga Maharaja melakukan perjalanan sepanjang kali Ciliwung. Beliau naik perahu yang berbentuk Naga Basuki. Perahu ini menjadi lambang kemakmuran dan keselamatan warga kerajaan.

Turut serta dalam perjalanan Sri Baduga Maharaja ini warga dari Babagan, Madang, Bojonggede, Caringin, Cairu, Ciampea, Ciawi, Cibinong, Cibungbulang, Cigombong, Cigudeg, Cijeruk, Cileungsi, Ciomas, Cisarua, Ciseung, Citeureup, Dramaga,Gunung Putri, Gunung Sindur. Mereka bertugas untuk menyiapkan perahu, rute, dan perlengkapan perjalanan. Prabu Sri Baduga Maharaja ini menentukan keberhasilan transportasi sungai Ciliwung.

Warga dari Jasinga, Jonggol, Kemang, Klapanunggal, Leuwiliang, Leuwisadeng, Megamendung mendapat tugas untuk mengurusi konsumsi peserta. Dalam bidang keamanan diserahkan pada warga dari daerah Nanggung, Pamijahan, Parung, Parungpanjang, Ranca Bungur, Rumpin, Sukajaya, Sukamakmur, Sukaraja. Urusan among tamu dan protokol diserahkan pada warga dari daerah Tajurkalang, Tamansari, Tanjungsari, Tenjo dan Tenjolaya.

Pengembangan sistem transportasi kali Ciliwung sekaligus dalam rangka peningkatan kualitas rekreasi. Masyarakat perlu diberi sarana transportasi dan rekreasi yang mudah, murah, megah, mewah, indah. Aspirasi masyarakat Bogor dapat ditangkap dengan sempurna oleh raja Pajajaran. Wajar sekali karena Sri Baduga Maharaja memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, kultural yang diwarisi oleh pendahulunya.

B. Keagungan Keturunan Prabu Siliwangi dalam menata Kabupaten Bogor.

Bogor merupakan ibukota baru kerajaan Pajajaran. Sebelumnya ibukota kerajaan Pajajaran berada di Priangan Bandung. Perpindahan ibukota melalui proses pengkajian yang mendalam.

Kerajaan Pajajaran berdiri pada tahun 1333. Suasana kerajaan dalam keadaan makmur, aman, damai, sejahtera, kokoh, jaya, berwibawa. Masyarakat hidup ayem tentrem, bahagia lahir batin. Semua ini berkat jasa, usaha, perjuangan Prabu Siliwangi. Raja Pajajaran ini memang agung dan anggun.

Gunung Malabar merupakan tempat sakral bagi keluarga Kerajaan Pajajaran. Sesuai dengan namanya, Pajajaran, maka terdapat jatidiri yang berjajar-jajar. Pusakanya berjajar-jajar, hartanya berjajar-jajar, kesaktiannya berjajar-jajar, prajuritnya berjajar-jajar, pegunungan berjajar-jajar, sahabat berjajar-jajar. Singkat kata kelebihan negeri Pajajaran serba berjajar-jajar. Maka disebut negeri Pajajaran.

Ucapan selamat atas berdirinya Kerajaan Pajajaran berasal dari Tri Bhuana Tunggadewi, raja Majapahit. Beliau memberi bokor emas kepada Prabu Siliwangi sebagai tanda persahabatan. Kebetulan sekali Raja Putri Majapahit ini gemar dengan makanan Peuyeum. Tiap Majapahit punya acara pesta, sang raja minta kiriman tape Pasundan. Ternyata peuyeum menjadi sarana diplomasi antara kerajaan Pajajaran dengan kerajaan Majapahit. Pada tahun 1336 utusan dari Singasari, Kahuripan, Jenggala, Daha, Kediri, dan Panjala memberi dukungan kepada Prabu Siliwangi.

Kerjasama antara kraton Pajajaran dengan Majapahit semakin erat. Pada tahun 1352 bregada prajurit Pajajaran belajar baris berbaris di daerah Trowulan Majapahit. Setiap kali istirahat santai, prajurit Pajajaran diberi hidangan rujak cingur. Pada akhir pekan mendapat hidangan lontong balap. Ketika acara pelatihan selesai prajurit Pajajaran mendapat hadiah makanan nasi rawon. Begitulah prajurit Pajajaran dilatih oleh bregada prajurit Prawira Anom, Jayeng Astro, Payutra. Oleh karena itu ada kemiripan antara prajurit Pajajaran dan prajurit Majapahit.

Untuk mempererat tali persaudaraan, Prabu Hayamwuruk berkunjung ke Pajajaran pada tanggal 5 September 1356. Kali ini kehadiran Prabu Hayamwuruk memimpin tim perdagangan Majapahit. Beliau mengantar pengusaha kulit Tanggulangin. Mereka diharap belajar kepada warga Kraton Pajajaran yang berpengalaman dalam mengelola industri sepatu kulit. Sarasehan perdagangan sepatu kulit dilaksanakan di kawasan Cibaduyut.

Selama kunjungan ini, para seniman Pasundan menghibur pejabat Majapahit seni musik angklung memang mempesona. Prabu Hayamwuruk secara khusus belajar seni musik angklung. Beliau berjanji akan mengirim seniman Majapahit yang bermukim di Pandaan untuk belajar seni musik angklung. Misi perdagangan ini cukup berhasil. Warga Tanggulangin menjadi pengusaha kulit yang sukses gemilang.

Prabu Brawijaya pun amat terpesona dengan manajemen wisata gunung. Kerajaan Pajajaran makin dalam budidaya serta pengembangan wisata pegunungan. Daerah Priangan sebagai ibukota Pajajaran tampak asri. Pada tanggal 24 April 1416 Prabu Brawijaya menyempatkan belajar tata kota. Selama ini Pajajaran sudah punya hubungan diplomasi dengan kerajaan Samudra Pasai, Sriwijaya, Ternate, Tidore. Kerajaan Majapahit melakukan studi banding demi memajukan potensi wisata kota. Kota Priangan cukup memberi pelajaran yang berharga.

C. Kabupaten Bogor Tertata Rapi Berbasis Ilmu Pengetahuan.

Ilmu pengetahuan menjadi basis pengembangan kota Bogor. Para pemimpin mendorong agar warganya maju sejahtera. Pengalaman lapangan di segala bidang ditingkatkan.

Kerajaan Pajajaran mulai berencana untuk mengembangkan ibukota pada tahun 1579. Dari Priangan ini ibukota kraton Pajajaran hendak dipindah ke Bogor. Pengkajian, penelitian dan pembahasan tentang perpindahan ibukota negara dilaksanakan oleh tim ahli. Mereka meninjau dari segi ekonomi, sosiual, budaya, hankam, politik. Wawasan menyeluruh atas perpindahan ibukota Pajajaran dari Priangan ke Bogor ini benar-benar dalam proses penelitian yang seksama.

Persiapan perpindahan ibukota kerajaan Pajajaran memakan waktu tiga tahun. Tepat pada tanggal 3 Juni 1482 kerajaan Pajajaran pindah ke Bogor. Kota Priangan dikembangkan sebagai kota industri, wisata dan perdagangan. Begitulah strategi yang dilakukan oleh Sri Baduga Maharaja sebagai pemimpin kerajaan Pajajaran. Gagasan unggul dan bermutu ini berlangsung lestari sepanjang masa.

Raden Bondan Kejawan, putra Prabu Brawijaya raja Majapahit diundang ke Bogor. Raden Bondang Kejawan ahli garam dari Sampang Madura. Beliau juga memiliki perusahaan garam di Kalianget Sumenep Madura dan perusahaan kecap di Grobogan. Kedatangan bangsawan Majapahit ke ibukota Pajajaran dalam rangka pelatihan ekonomi kerakyatan. Pemuda pemudi Bogor diajari untuk hidup mandiri dan berdikari. Pelatihan ekonomi terjadi pada tahun 1485.

Pada tanggal 10 Juni 1533 Prabu Surawisesa memimpin Kerajaan Pajajaran. Beliau pengagum ajaran Empu Tantular pujangga kerajaan Majapahit. kitab Sutasoma dibaca dengan cermat. Beliau menemukan semboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Ajaran luhur itu diterapkan untuk memimpin kerajaan Pajajaran. Warga Pajajaran yang beragama Islam dikirim ke daerah Kadilangu Glagahwangi. Saat itu Kerajaan Demak dipimpin Sunan Prawoto, dengan guru utama Kanjeng Sunan Kalijaga.

Adipati Kemang sebagai pemimpin Bogor mengundang Sri Susuhunan Amangkurat Agung, Raja Mataram. Beliau hadir dalam rangka penandatanganan kerjasama bidang pertanian, perkebunan dan peternakan. Sejak tahun 1648 Adipati Kemang giat dalam budidaya tanaman yang bernilai komoditas. Sri Susuhunan Amangkurat Agung pada waktu punya usaha budidaya ikan laut di daerah Tegal.

Kemegahan Bogor tampak pada masa pemerintahan Demang Rumpin. Meskipun beliau cuma punya wilayah kecil, tetapi super kreatif. Pada tahun 1748 beliau menjadikan pelabuhan Tanjung Priok sebagai pusat perdagangan. Atas bantuan Bupati Lamongan, Pangeran Purboyo, Tanjung Priok menjadi pelabuhan yang terkenal. Pangeran Purboyo berpengalaman mengelola pelabuhan Tanjung Kodok.

Demang Ciawi pada tahun 1817 mendapat kesempatan untuk belajar batik di Laweyan Solo. Sinuwun Paku Buwana IV memberi fasilitas kepada pemuda pemudi Bogor. Para istri pejabat Bogor diberi pengertian tentang motif batik : sidomukti, kawung, sidomulya, candrakusuma, parang, sekar tanjung, wirasat, udan riris dan truntum.

Kreativitas seni budaya juga sempat menjadi perhatian warga Bogor. Pada tahun 1847 Demang Tajur Halang belajar sejarah, kesusasteraan, filsafat, pewayangan di daerah Pengging. Tim Bogor berguru kepada pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita. Daerah Pengging cocok untuk pembelajaran bidang humaniora.

Pengenalan pada lingkungan Pengging diteruskan oleh tim Bogor yang dipimpin oleh Demang Cijeruk. Pada tahun 1874 warga Bogor belajar manajemen perkebunan kopi di Kembang Semarang. Pada tahun 1886 Demang Caringin memimpin studi banding di Ampel Boyolali. Tim Bogor belajar tentang manajemen perkebunan teh. Berkenan memberi materi pembelajaran yaitu Adipati Arumbinang Bupati Kebumen.

Semangat untuk belajar manajemen gula dipelopori oleh Demang Bojonggede. Beserta dengan rombongan Bogor, lantas datang ke pabrik gula Manis Harjo dan Gondang Winangun Klaten. Program studi banding manajemen gula ini dilaksanakan pada tahun 1905 – 1907. Sebagian warga Bogor turut pula menjadi karyawan pabrik gula di Purwodadi Magetan. Mereka mendapat tugas dalam bidang administrasi.

Keahlian dalam mengolah semen dilakukan oleh warga Bogor yang dipimpin Demang Cibinong. Pada tahun 1934 warga Cibinong, Rumpin, Ciomas, Dramaga melakukan riset di bukit Renteng Bojonegoro. Mereka cukup tekun mempelajari alam pegunungan kapur. Pengalaman dan pengetahuan inilah yang menjadi cikal bakal pendirian pabrik semen di Indonesia.

Kabupaten Bogor terus melangkah maju mengikuti perkembangan jaman. Para Bupati Bogor memberi kontribusi pada kesejahteraan rakyat. Mereka bergerak bersama dengan dilandasi pengabdian yang tinggi. Para Bupati yang telah bekerja demi kemajuan masyarakat Kabupaten Bogor yaitu :
1. Ipik Gandamana 1948 – 1949
2. R.E. Abdoellah 1950 – 1958
3. Raden Kahfi 1958 – 1961
4. Karta Dikaria 1961 – 1967
5. Wisatya Sasmita 1968 – 1973
6. Raden Mochamad Muchlis 1973 – 1976
7. Ayip Rughby 1976 – 1983
8. Soedrajat Nataatmaja 1983 – 1988
9. Eddie Yoso Martadipura 1988 – 1998
10. Kol. TNI (Purn.) H. Agus Utara Effendi 1998 – 2008
11. Drs. H. Rahmat Yasin, M.M. 2008 – 2014
12. Hj. Nurhayanti, S.H., M.M., M.Si. 2014 – 2018
13. Ade Yasin 2018 - 2023

Jasa dan perjuangan para pemimpin Kabupaten Bogor harus dihormati. Mereka telah mempersembahkan tenaga, waktu, pikiran buat kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Masyarakat Kabupaten Bogor telah memberi sumbangan yang berguna buat menganyam peradaban dunia. Wilayah Bogor melampaui peristiwa historis dengan suasana aman damai, segar bugar dan bahagia sentosa.


Ditulis oleh : Dr. Purwadi, M.Hum, 27 Juli 2020. 

Jl Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta. Hp. 087864404347

SEJARAH PRABU SILIWANGI

SEJARAH PRABU SILIWANGI.  Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA Hp: 0878 6440 4347.  A. Berdirinya Istana ...