Minggu, 29 November 2020

SEJARAH KEDATON PAMASE SEBAGAI PENGHORMATAN KADIPATEN BANYUMAS

SEJARAH KEDATON PAMASE SEBAGAI PENGHORMATAN KADIPATEN BANYUMAS

Oleh Dr Purwadi
 M.Hum. Ahli Sejarah
 Lembaga Olah
 Kajian Nusantara - LOKANTARA. Hp 087864404347

A. Ibukota Kraton Mataram. 

Peradaban bangsa berguna untuk memperkokoh jati diri. Pada tanggal 14 Nopember 2020 tim ahli Lokantara melakukan riset sejarah di desa Lesmana Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. 

Rajutan nilai historis berguna untuk membentuk karakter generasi muda. Jasmerah, jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Kearifan lokal ini bertebaran dari Sabang sampai Merauke, dalam naungan semboyan Bhineka Tunggal Ika. 

Dokumentasi historis berdasarkan informasi serta literasi yang diperoleh dari lapangan. Tim peneliti Lokantara terdiri dari Sari Endah Setiani, Purwadi, Purharcahyo, Suci Umiyati. Mereka berusaha untuk melacak istana Mataram yang dijadikan sebagai pusat menyusun kebijakan. 

Kerajaan Mataram dipimpin oleh Panembahan Senapati tahun 1582 - 1601. Ibukota Kraton Mataram di Kotagedhe. Tahun 1601 - 1613  Kerajaan Mataram diperintah oleh Sinuwun Hadi Prabu Hanyakrawati. Kedua raja Mataram ini membangun Kotagede atas bantuan Kanjeng Ratu Waskitha Jawi.

Mulai tahun 1613 hingga 1645 ibukota ibukota Mataram dipindahkan oleh Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo. Dari kotagedhe ke Kerta. Pendukung utama pemindahan ibukota yaitu Kanjeng Ratu Batang. Perlu disebutkan pula jasa Tumenggung Bahurekso. Tokoh masyarakat Kendal ini terkenal kebak ngelmu sipating kawruh, putus ing reh saniskara.

Daerah Kerta menjadi ibukota yang mengutamakan kemandirian wisata kuliner. Terutama gule, sate klathak, thengkleng kambing.  Aneka jajan pasar, panganan harian, unjukan tersedia berlimpah ruah. Wilayah ini benar benar gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja.

Negeri Mataram semakin jaya makmur ketika diperintah oleh Sinuwun Amangkurat Agung tahun 1645 - 1677. Ibukota pindah dari Kerta ke Plered. Beliau juga berkantor di Segarayasa. Kitab Sastra Gendhing, Pangracutan, Nitipraja menjadi referensi kenegaraan. Kitab reriptan Sultan Agung digunakan sebagai pedoman untuk menata birokrasi Mataram. 

Demi pelayanan publik yang efektif efisien, Sinuwun Amangkurat Agung bertindak aktif kreatif. Istana Negara yang berfungsi sebagai kantor pelayanan dibangun di berbagai daerah. Hubungan rakyat dengan pejabat menjadi lebih  akrab dekat memikat.

Istana Kajor dibangun di Banyumanik Semarang tahun 1646. Istana Ratu Wetan dibangun di Surabaya tahun 1647. Istana Kuning dibangun di Lasem Rembang tahun 1648. Istana Jaladri dibangun di Slawi Tegal tahun 1649.

Pesanggrahan Mataram menyebar di berbagai daerah. Demang, Mantri, wedana, Tumenggung, Adipati menjadi aparat yang berbakti. 
Siang malam sungkem untuk ibu pertiwi. Lila lan legawa kanggo mulyane negara. 

B. Istana Pamase dibangun Sri Amangkurat Agung. 

Pembangunan Istana Pamase berada di Lesmana Ajibarang Banyumas tahun 1651. Terbuat dari bahan baku kayu jati terpilih. Diambil dari Randublatung Cepu Blora.

Gagasan pembangunan Istana Pamase berasal dari Kanjeng Ratu Kulon atau Ratu Wiratsari. Permaisuri Sinuwun Amangkurat Agung ini bergelar Kanjeng Ratu Kencono. Masih keturunan Sultan Hadiwijaya raja Pajang.

Dalam lintasan sejarah kanjeng Ratu Wiratsari berjasa atas berdirinya Kabupaten Banyumas. Berdirinya pendopo di kota Purwokerto juga atas kemurahan Kanjeng Ratu Wiratsari. Beliau seorang ratu yang punya usaha mebel, perahu, pelayaran, maritim. Ayahnya bernama Pangeran Radin yang menjadi pimpinan pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Pembangun istana Pamase sepenuhnya atas biaya Kanjeng Ratu Wiratsari. Warga Kalibenda, Jingkang, Kricak, Wangon, Cilongok, Karanglewas, Karangcengis terlibat aktif. Mereka mengelola Istana Pamase secara bergiliran. 

Pada tahun 1654 diadakan pagelaran seni. Sendratari ramayana digelar dengan melibatkan tokoh beksan dari Manisrenggo Prambanan. Adegan wana Dandaka amat mengharukan. Pemeran Rama sungguh menghayati karakter. Pemeran Sinta diambil dari Sanggar Seni Guwa Wijaya. Sedangkan peran Lesmana berasal dari ahli joged Kebon dalem Kidul. Sendratari tari ini menonjolkan tokoh Lesmana. Demi menghormati warga desa Lesmana. 

Paguyuban seniman Purbalingga diundang untuk mengisi acara. Lagu Serayu berkumandang penuh dengan kebanggaan. 

Adhuh segere banyune ing sendhang, ilang kesele wis mari le mriyang, banyune Bening nyegerake ati, kudu sing eling mring tindak kang suci. 

Ayo pra kanca sing suka gembira, greget gumregah gumregut neng sawah, nanduri tela dhele jagung pari, ngingoni kebo ayam menda sapi. 

Peralatan gelar budaya diambil dari Gumelem Susukan Banjarnegara. Kostum batik begitu gumebyar. Pandai besi Gumelem juga menyiapkan peralatan logam. Mereka pengrajin bermutu tinggi. Prestasi vokasi Gumelem sejak tahun 1546, saat Ki Ageng Giring bertugas di Pertapan Girilangan.

Tiap tahun Ratu Wiratsari mengadakan festival seni budaya Mataram di istana Pamase. Suguhan srabi Wangon tak pernah absen. Gathot thiwul Jingkang menjadi menu utama. Pemilik warung Tegal diundang pula. Inilah momen bagi bagi rejeki.

Ketahanan pangan digalakkan lewat istana Pamase. Makanan tradisional selalu dihadirkan dalam upacara kenegaraan Mataram. Ratu Wiratsari amat peduli pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan. 

Kesadaran lingkungan laut bahari dipelopori oleh Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Pengikut beliau yang amat loyal bernama Pangeran Lambung dari Banjarmasin Kalimantan Selatan. Demi menghormati Sri Susuhunan Amangkurat Agung, lantas bergelar Pangeran Lambung Mangkurat.

Maritim maju berkat jasa Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Lewat kota Tegal pelayaran perdagangan dan pelabuhan berkembang pesat. Begitulah perjuangan raja Mataram buat warga bang Kulon. 

Pada tanggal 10 Juli 1677 Sri Susuhunan Amangkurat Agung kondur ing tepet suci, surut ing kasedan jati. Sumare ing Pasareyan Pakuncen Adiwerna Tegal. Astana Tegalarum menaburkan ganda arum ke segala penjuru. 

Jalma limpat seprapat tamat. Sinuwun Amangkurat Agung tetap berbadan utuh. Tiap tahun diselenggarakan pangkas rawis atau cukur kumis. Bersamaan dengan upacara larapan langse. 

Kanjeng Sinuwun Amangkurat Agung dan Kanjeng Ratu Kencono pepundhen tanah Jawa. Pembesar Kerajaan Mataram ini telah eca sekeca mapan ing suwarga loka.

Jumat, 30 Oktober 2020

SEJARAH CANDI LOR SEBAGAI TUGU PENGHORMATAN WANGSA MATARAM

SEJARAH CANDI LOR SEBAGAI TUGU PENGHORMATAN WANGSA MATARAM

Oleh Dr Purwadi M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA.

A. Tanda Darma Bakti Pengabdian.

Pembangun candi lor terjadi pada tanggal 10 April 907. Prestasi gemilang Empu Sendok dikenang sepanjang masa. Labuh labet terhadap nusa bangsa berguna bagi sekalian warga.

Kedatangan wangsa Sanjaya Mataram ke Jawa Timur bertujuan untuk melakukan pembinaan di segala bidang. Njajah desa milang kori. Terlebih dulu Empu Sendok tapa kungkum di telaga sarangan. Lantas manjing wana wasa, mahas ing asepi ibg hargo Dumilah gunung lawu. Juga teteki ing Kali Ketangga. Gentur tapane, mateng semedine. Apa kang den cinipta teka, kang sinedya dadi.

Kunjungan Empu Sendok ke wilayah Madiun sambil mengajari pembuatan brem. Berbekal ketrampilan selama mengabdi di daerah Prambanan, Empu Sendok berpengalaman dalam bidang kuliner. Adonan kacang tinah dengan lombok terbentuk sambel pecel. Muncullah kuliner sega pecel khas Madiun. Dengan lalapan kacang lanjaran, kuluban kembang turi, lauk pauk krupuk lempeng yang kemriyuk.

Tiba di wilayah Caruban tahun 905. Empu Sendok sempat membina seni kerakyatan yang mudah murah meriah. Seni rakyat itu bernama dongkrek. Pakai sesaji pala pendhem, pala wija, pala gumandhul, pala kesimpar. Berkembang sampai sekarang sebagai sarana hiburan yang segar.


Lelepah lelepah, pangananku iwak mentah. Bumbune brambang uyah. Sing masak Mbak Kalimah. Dak pangan ing pinggir sawah. Rasane seger sumyah.

Lelagon tersebut populer gecul. Nadanya enak, syairnya kepenak. Mudah dihafal sebagai bentuk guyon maton. Penonton mendengar langsung mesem ngguyu.

Kehadiran Empu Sendok pertama kali berada di desa Ngrajeg Tanjunganom Nganjuk. Tanggal 30 Juni 906 Empu Sendok membangun padepokan seni. Anak muda berbakat dibina. Tampillah penari gambyong yang handal profesional. Dengan diiringi gamelan janggrung, usaha kesenian ini berhasil memuaskan. Padepokan seni Ngrajeg menjadi cikal bakal lahirnya seni beksan langen tayub.

Masyarakat Nganjuk begitu hormat kepada Empu Sendok, anak Dyah Balitung, putra raja Mataram Hindu. Wangsa Mataram bertekad lila legawa kanggo mulyane negara. 

Dengan semangat gotong royong, masyarakat Candirejo Loceret Nganjuk mendirikan bangunan suci. Terbuat dari batu bata. Kanan kiri tanaman subur. Dari kejauhan ngregemeng gunung Wilis gagah merbawani.

Penghormatan atas jasa Empu Sendok berupa monumen anjuk Jaya stamba atau anjuk Ladang. Nganjuk berarti mangan karo ngunjuk. Air mengalir siang malam tiada henti. Sepanjang mata memandang tampak tanah gembur tanaman sempulur. Hati pun jadi terhibur.

Candi Lor menjadi pusat tetirah bagi pembesar Kerajaan kahuripan. Prabu Airlangga nenepi di candi Lor tahun 1062. Harapannya negeri Kahuripan menjadi sejahtera lahir batin. Rakyat hidup ayem tentrem.

Panji Asmarabangun mendapat kasekten pada tahun 1134. Suka tapa kungkum di dam glathik. Juga tapa ngeli sepanjang aliran sungai Widas. Beliau nenuwun di candi Lor tiap tahun saat malem selasa kliwon. 

Ratu Kencana Wungu, penguasa Kerajaan Majapahit pada tahun 1412 mengadakan upacara Sasana nguntara. Pageblug mayangkara lekas reda, setelah Prabu Kencana Wungu sesaji memendam kepala kerbau di candi Lor. Bahkan Kerajaan Majapahit semakin arum kuncara, ngejayeng jagad raya. 

B. Pelestarian Cipta Budaya Bangsa. 

Usaha pelestarian Candi Lor atau Sasana Nguntara dilakukan oleh Kanjeng Sultan Trenggana, raja Demak Bintara pada tahun 1523. Hadir pula Kanjeng Sunan Bonang untuk memberkati. Tumpeng sewu dan tumpeng robyong disediakan. Tak ketinggalan dupa garu rasamala. Kukusing dupa kumelun. Sumundhul ing ngawiyat. 

Tata cara ritual di Candi Lor juga dilakukan oleh Joko Tingkir. Lara lapa tapa brata. Trah pembesar Pengging ini memang biasa dengan unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa. 

Joko Tingkir nate siram jamas ing kali kedung ngaron, perenge Gunung Pandhan. Berkat gembleng tekade, nyawiji pambudi dayane, doa Joko Tingkir terkabul. Dia menjadi pemuda yang Sakti mandraguna, ora tedhas tapak palune pandhe, sisane gerinda tanapi tedhane kikir. Sing lanang ngondhange sektibe, sing wadon ngondhangake baguse. 

Kelak Joko Tingkir berhasil menjadi raja Pajang pada tahun 1546. Bergelar Kanjeng Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Pantagama. Turut ngestreni jumenengan Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Pringapus. Kerajaan Pajang yuwana rahayu, nir ing sambikala. 

Pada tanggal 28 Oktober 2020 Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat atau PAKASA cabang Nganjuk mengadakan peringatan sumpah pemuda. Dengan dipimpin oleh KRT Sukoco Madunagoro acara Sumpah Pemuda ini berlangsung produktif dan kreatif. KMT Ida Madusari mencatat dengan teliti. Rekaman lagu Nganjuk Mranani bersama para siswa. Hari itu Candi Lor jadi saksi kegiatan budaya. Supaya lancar, Pengageng PAKASA Nganjuk ini menunjuk asisten dari Grogol Mojorembun Rejoso Nganjuk. Namanya Purwadi. Sekedar untuk bantu bantu bawa buku tulis dan pulpen. 

Siswa SLTA yang ikut peringatan Sumpah Pemuda diberi keterangan sejarah. Kata Bung Karno Jasmerah, jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Kok yo mathuk. Semua sepakat. Semua setuju. Playing by learning, bermain sambil belajar. Sinau ilmu iku kelakone kanthi laku. 

Mereka menyanyi bersama. Lagunya sederhana yaitu Nganjuk Mranani, Kali Bening, Kutha Angin, Gunung Wilis, Gunung Pandhan. Keplok ambal ambalan. Pratandha yen atine kalegan. Pelajar SLTA Nganjuk yang segar bugar ini tekun belajar. Sing tekun antuk teken wekasan tekan. Masa depan mereka jelas cerah ceria, bersinar terang benderang. 

Dokumentasi budaya ini lewat rekaman dan penulisan. Berguna untuk memahami owah gingsire jaman. Jroning urip ana urup, jroning urup ana urip kang sejati. Aran rasa jati atau sarira sejati. 

Wit nagasari tumbuh rindang selama 12 abad. Pohon ini ditanam oleh Resi Mayangkara di Pertapan Kendalisada. Pohon nagasari menjadi ramuan obat jaman Prabu Jayabaya di Kerajaan Kediri tahun 1136. Putri Wates, Pare, Mamenang, Ngadiluwih gemar ramuan obat alami. 

 Daun wit nagasari berguna untuk ramuan jamu. Bila diminum badan langsung sehat. Khusus pengantin baru, minum ramuan godhong nagasari akan cepat punya momongan. Ibu ibu yang mau ngunjuk jampi roning nagasari akan selalu awet ayu. Muka berseri seri menawan hati. Meskipun usia menginjak lima puluh tahun, wajahnya tampak cakep cukup seperti umur dua puluh tiga tahun. 

Pohon nagasari yang tumbuh di sekitar lingkungan candi Lor Nganjuk sangat berarti. Pengantin baru dan Ibu ibu sebaiknya ngunjuk jamu. Untuk membuktikan, mari datang ke candi Lor. Ramuan godhong nagasari siap sedia. Kediri tahu takwane, sing dadi rak nyatane.

SEJARAH CANDI NGETOS

SEJARAH CANDI NGETOS

Oleh Dr Purwadi M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA.

A. Warisan Kraton Majapahit.

Kerajaan Majapahit terkenal sebagai negara yang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Rakyat berkecukupan sandang pangan papan, makmur lahir batin.

Pembangunan di segala bidang gencar dilakukan. Kejayaan Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Kanjeng Sinuwun Prabu Hayamwuruk sejak tahun 1350. Perdana Menteri dijabat oleh mahapatih Gajah Mada. Demi persatuan dan kesatuan nusantara, Patih Gajah Mada melaksanakan ikrar suci sumoah palapa.

Pujangga Majapahit kenamaan yaitu Empu Prapanca dan Empu Tantular. Atas petunjuk kedua Empu minulya itu, pada tahun 1354 dibangun tempat pemujaan. Sanggar pamujan ini berbentuk sebuah candi. Terbuat dari batu bata berkualitas prima. Candi dibangun segi empat. Puncaknya berhias wajah arca balaupata. Wajah raksasa ini berseri seri, optimis, terang, cerah, indah. Mirip raksasa penjaga Sela matangkep alun Alun kayangan Junggring Salaka.

Candi sakral itu berada di bawah kaki gunung Wilis. Pada jaman awalnya bernama Petri  Pujastuti. Terletak di daerah Ngetos Nganjuk. Masyarakat lantas menyebut Petri Pujastuti sebagai Candi Ngetos. 


Kegiatan spiritual Majapahit kerap dilakukan di kawasan Petri Pujihastuti. Pada tahun 1361 Empu Tantular memimpin pujamantra. Terlebih dahulu Empu Tantular siram jamas di Grojogan Sedudo. Pembacaan kidung Kakawin Sutasoma bertujuan untuk memohon keselamatan bagi sekalian warga Kerajaan Majapahit. Acara doa ini atas dhawuh Sri Baginda Raja. 

Sosialisasi visi misi Kerajaan Majapahit berlangsung di Candi Ngetos pada tahun 1363. Empu Prapanca menjelaskan isi kitab Negara kertagama. Tata praja dan sistem hukum Majapahit diharapkan dapat dimengerti oleh segenap aparat. Birokrasi dianjurkan untuk menjadi pelayan masyarakat. Hadir menyertai Empu Prapanca segenap pembesar Kerajaan. 

Kanjeng Sinuwun Prabu Hayamwuruk manjing ing tepet suci, kondur ing kasedan jati. Pada tahun 1386 raja Majapahit ini mangkat. Rakyat merasa kehilangan pengayom agung. Para pengrawit Istana segera nabuh gangsa Kyai Tawang Rujit. Tanda berduka cita. Lamat Lamat suara gamelan bernada sedih menyayat hati. Di bawah rintik rintik hujan gerimis, rakyat antri layat. 

Atur puji pangastuti. Saat yang bersamaan, Kawula dalem yang berdomisili di desa Kuncir mengadakan ritual pujasastra. Mereka membaca kidung bhagawat gita bagian doa arwah pahlawan. Pembacaan doa ini berlangsung tujuh hari tujuh malam. Mereka berdoa dengan sukarela, demi ngalap berkah pada arwah Prabu Hayamwuruk. 

Kerajaan Majapahit adalah payung besar untuk berteduh. Bagi warga sekitar gunung Wilis, Prabu Hayamwuruk adalah narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil para marta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. 

Sekedar untuk pengetahuan sejarah. Pada tanggal 10 April 907 dibangun Candi Lor. Masuk dalam kecamatan loceret Nganjuk . Pembangunan candi Lor untuk menghormati jasa Empu Sendok. Beliau bangsawan dari kerajaan Mataram Hindu yang membangun candi Prambanan. Sebagai sarana pengajaran kama artha dharma moksa. 

B. Aura Magis Candi Ngetos. 

Perjalanan menuju Candi Ngetos dari Kota Nganjuk ditempuh sekitar 40 menit. Kendaraan melintasi terminal, stasiun, alun alun, stadion, pertigaan loceret, Berbek, Kuncir. Terus berjalan dengan pemandangan elok menawan. 

Hari besar nasional. Siang itu tepat dengan peringatan hari Sumpah Pemuda, hari Rabu tannggal 28 Oktober 2020. Rombongan PAKASA, Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat, cabang Nganjuk mengadakan penelitian budaya. Nguri nguri budaya Jawi murih basuki lestari. 

Pimpinan Pakasa Nganjuk yaitu KRT Sukoco Madunagoro. Beliau didampingi oleh staf yang handal, KMT Ida Madusari. Turut serta sebagai pelaku pupuk bawang, cah Grogol Mojorembun Rejoso Nganjuk. Namanya Purwadi. Tim peneliti Pakasa Nganjuk itu kerap terjun langsung di lapangan, untuk melakukan dokumentasi seni budaya bangsa. 

 Hari itu pula riset dimulai dengan konsultasi kepada ahli ilmu sosial dan sejarah. Beliau adalah Ibu Dra  Emmy Herwiati. Beliau memang lama mengajar tentang seluk beluk kehidupan masa silam. Konsultasi akademis berlangsung di perumnas candirejo blok M Nganjuk. Tempatnya asri teduh. Kanan kiri pepohonan rindang. Angin sumilir bertiup segar. Wejangan Ibu Dra Emmy Herwiati cukup untuk bekal riset di lokasi. 

Suasana konsultasi di perumnas candirejo ibarat sowan di pertapan saptaharga. Resi Abiyasa memberi wedharan ngelmu kasampurnan kepada para cantrik. Tim Pakasa Nganjuk merasa puas ngangsu kawruh pada Ibu Dra Emmy Herwiati Sigra bidhal dhateng perenging arga Wilis. 

Kutha cilik sangisore gunung Wilis, iku pantes dadi pacangkramaning pra turis. Yo kanca ing sedhudho, ing perenging arga. Lelumban lan byur byuran, weh bagase raga. Rampung njajan nginep ing Pesanggrahan 
Wis mesthi kepranan nyawang kaendahan. Ja lali ja keri kutha Nganjuk mranani. 

Begitulah pemandangan alam yang dilukiskan oleh Ki Panut Darmoko. Dalang terkenal ini tinggal di gang sikatan ploso tahun 1930 - 2010. Jasanya dalam pengembangan seni budak amat besar. 

 Kali kuncir gumrojok airnya. Berasal dari aliran grojogan Sedhudho. Banyu bening, sebening doa suci yang diucapkan Empu Tantular dan Empu Prapanca. Tak mengherankan bila banyak penghayat Kejawen kerap nenepi di kawasan Kuncir. 

Hutan jati di sekitar candi ngetos berjajar jajar. Buah jambu mente pating grandhul. Pala gumandhul jambu mete menyebar ke berbagai pelosok pasar. Buah kepel melengkapi kekayaan alam. Warga merasa beruntung tikel matikel. 

KRT Sukoco Madunagoro dan KMT Ida Madusari trampul rikat trengginas. Lokasi candi dipotret dan dicatat. Termasuk kuliner asem asem sempat pula dijelaskan. Untuk menambah stamina, juga mampir di warung imbuh dhewe. Tersedia menu sega thiwul, jangan kluwih, iwak pindhang. Rasanya mak nyus. Nyamleng tenan. Seperti kuliner di kayangan cakra kembang. 

Kabudayan kesenian pancen nyata. Iku dadi pikukuh kapribadening bangsa. Kerawitan pedalangan beksa olahraga. Candi ngetos wis nyata peninggalan kuna. Pembangunan kuncara liyan praja. Rerengganing kutha wis sarwa tumata. Ja lali ja keri kutha Nganjuk nggon seni. 

Promosi wisata candi ngetos cukup berhasil. Dengan ilmu hidup lebih mudah. Dengan agama hidup lebih terarah. Dengan seni hidup lebih indah. Itulah seni Edi peni, budaya adi luhung. 

Lebih lengkap lagi bila wisata kultural ini dengan siram jamas di talaga Roro Kuning. Tempatnya di Bajulan Loceret. Katanya bisa menambah keberuntungan nasib. Bakul jadi laris, perawan cepet temu jodho, janda segera mendapat pengganti. Cita cita gancar lancar. Jumbuh ingkang ginayuh, sembada ingkang sinedya.

Jumat, 09 Oktober 2020

UPACARA MENYAMBUT DATANGNYA BULAN SURA

UPACARA MENYAMBUT DATANGNYA BULAN SURA 


A. Tata Cara Kejawen Demi Keselamatan Lahir Batin. 

Masyarakat Jawa menjadikan bulan Sura sebagai moment yang sakral. Wilujengan mapag bulan Sura dalam rangka memperoleh keselamatan lahir batin. Tiap tahun upacara untuk menghormati bulan sakral ini dilakukan oleh Karaton Surakarta Hadiningrat. Abdi dalem sowan dari berbagai kota. 

Rangkaian kegiatan ritual budaya berlangsung rutin. Di sela sela pahargyan itu, dilaksanakan pula koordinasi organisasi PAKASA atau Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat, yang lahir sejak tahun 1931. Organisasi ini untuk wadah pelestarian budaya. 

Wadah kebudayaan menjadi sarana efektif untuk pembinaan mental spiritual. PAKASA didirikan oleh Kanjeng Sinuwun Paku Buwana X. Abdi dalem PAKASA selalu rajin ndherek tata cara adat. Mereka membuat kegiatan seni budaya di daerah secara mandiri. 

Kegiatan budaya harus didukung. Hari yang bersejarah terjadi pada tanggal 19 Agustus 2020. Wisuda abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat diikuti oleh warga Jepara, Nganjuk, Kediri dan Ponorogo. Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat atau PAKASA cabang Jepara dipimpin oleh KRT Bambang Hadipuro. Kali ini abdi dalem dari Kabupaten Jepara sebanyak 15 jiwa. Alamatnya di Sukodono Tahunan Jepara, Jawa Tengah 

Semangat pelestarian adat Istiadat masih cukup kuat. Warga Ponorogo dan Kediri begitu semangat. Jumlahnya sekitar 60 jiwa. Adapun sebanyak 13 jiwa warga Nganjuk diwisuda sebagai abdi dalem karaton Surakarta Hadiningrat. Mereka dilantik secara resmi setelah mendapat Serat Kekancingan. 
Pimpinan rombongan warga Nganjuk yang mendapat ganjaran pangkat dan sesebatan yaitu Kanjeng Raden Tumenggung Sukoco Madunagoro. Berasal dari kelurahan Kedondong Bagor Nganjuk Jawa Timur. KRT Sukoco Madunagoro juga ditetapkan sebagai ketua Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat atau PAKASA cabang Nganjuk. Anggota lain yang turut dilantik pula Kanjeng Mas Tumenggung Ida Sri Murtini Madunagoro, KR Suwandi Nototonagoro.

Pembacaan serat Kekancingan dilakukan oleh pengageng Kartipraja, Kanjeng Pangeran Sangkoyo Mangkukusumo. Pengambilan sumpah dengan netepi gawa gawene Karaton ingkang badhe katindakaken. Semua peserta menirukan dengan ucapan nuwun kula dan sendika. Satu persatu wisudawan maju ke depan dengan sikap susila anuraga. 

Serat Kekancingan diserahkan langsung oleh Dra GKR Wandansari Koes Moertiyah M.Pd. Beliau pangageng Sasana Wilapa dan Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat. Kedudukan ini setara dengan perdana menteri atau lembaga eksekutif. 

Bulan Sura kali ini sangat istimewa. Sejak pukul 17.00 peserta wisuda sudah berdanda kejawen jangkep. Wisudan kakung berbusana beskap iket blangkon, samir, radya laksana, bebedan jarik sidamukti, sabuk timang, setagen, beralas kaki slop, duwung ketis. Untuk wisudan putri mengenakan busana nyamping, kebaya hitam, sanggulan, nyampingan. Tampak anggun dan agung. Wajah mereka bersinar berseri seri. Sumringah kadi soroting rembulan wanci purnama sidi. 

Wisuda warga Nganjuk kali ini bersamaan dengan peserta dari Kabupaten Kediri, Jepara, Ponorogo. Dari Jepara, warga Ponorogo, Pakasa Kediri. Pertemuan dalam acara wisuda ini sekaligus jadi ajang sambang sambung srawung tulung tinulung. Pada masa depan dapat diselenggarakan program antar PAKASA cabang. Dengan demikian warga PAKASA antar daerah selalu cancut taliwanda, berpartisipasi dalam pelestarian budaya adi luhung. 

Acara wisuda dilakukan pada hari Rabu, 19 Agustus 2020 pukul 18.30 sampai 20.00.


B. Wilujengan Sasi Sura sebagai Sarana Tolak Balak. 

Aktivitas suran digelar di mana mana. Bagi masyarakat Jawa bulan Sura mendapat perlakuan khusus. Acara wisudan di atas berlangsung gancar lancar. Dilanjutkan dengan wilujengan di Masjid Keagungan Dalem Karaton Surakarta Hadiningrat.

 Pendherek Wilujengan sebanyak 700 orang. Mereka utusan dari PAKASA Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Wonogiri. Utusan PAKASA Solo Raya ini kerap disebut dengan akronim SUBO SUKO WONO SRATEN. tiap Karaton Surakarta Hadiningrat punya hajad, abdi dalem PAKASA ini senantiasa siap untuk sowan. Siaga ing hati, sawega ing dhiri. 

Tata cara Wilujengan dipimpin oleh KGPH Mangkubumi, putra Sinuwun Paku Buwana XIII. KGPH Mangkubumi adalah Pangeran Pati atau putra Mahkota yang berhak menggantikan tahta. Beliau memberi dhawuh kepada abdi dalem Ngulama, KRT Pujonagoro. Tahlil, Tahmid, takbir, tasbeh berkumandang ngebaki ing ngawang awang. Perpaduan doa cara Jawa Islam menjadi begit harmoni. Jawa digawa, Ara digarap. Inilah bentuk akulturasi kebudayaan, dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. 

Kukusing dupa kumelun, ngeningken tyas sang apekik, kawengku sagung jajahan, nanging sanget angikibi, Sang Resi Kaneka Putra, kang anjok saking wiyati. 

Bau dupa harum semerbak wangi. Asap mengepul ke angkasa. Tanda panuwunan abdi dalem terkabul. Doa yang dipanjatkan terlihat khusuk. Kipas yang mengiringi lafal doa turut membangun suasana yang mistis magis, wingit, ngengreng, merbawani. 

Uba rambe, sesaji, perlengkapan tata cara wilujengan sura dipersiapkan oleh abdi dalem Purwo Kinanthi. Mereka ahli dalam bidang sesaji, sesekaran, pusaka,minyak wangi, dupa, ratus. Abdi dalem gandarasa bekerja di dapur istana. Mirip dengan koki Kraton. Tentu saja tugas mereka berkaitan dengan upacara adat. Nyi Menggung Gandarasa menyediakan suguhan yang edi mirasa. Masakan mereka terasa enak nyamleng. 

Makanan yang ditaruh di atas dampar wilujengan diberi doa. Dibagi rata untuk pendherek. Semua mendapat jatah satu takir. Dimakan dengan begitu lahap. Ada kepercayaan berkat yang didoakan membawa keberuntungan. Maka wadah sisa pun dibawa pulang,sebagai sarana tolak balak. Segala penyakit akan lenyap, semua hama akan sirna. Abdi dalem PAKASA percaya ritual ini sebagai penerapan ngelmu iku kelakone laku. 

Barikan atau dhawuh spiritual dari pengageng Karaton Surakarta Hadiningrat. Selama bulan Sura warga abdi dalem dan penghayat kejawen mendapat nasihat, agar keluarga dan lingkungan hidup ayem tentrem. Karaton Surakarta Hadiningrat menganjurkan untuk ngunjuk legen. Rumah dihiasi manggar janur kuning. Ini sarana agar jauh dari mara bahaya, widada nir ing sambikala. Harap diingat pesan GKR Wandansari kepada seluruh abdi dalem dan warga PAKASA agar, NGUNJUK LEGEN, GRIYA RINENGGA MANGGAR JANUR KUNING. 

tepat pukul 22 tata cara wisudan, wilujengan mahargya wulan Sura berjalan gancar lancar. Abdi dalem karaton Surakarta, Pangageng, sentana, Negari Kesatuan Republik Indonesia dan seisinya ginanjar suka basuki. 

Ditulis oleh Dr Purwadi M.Hum. 31 Agustus 2020. Hp 087864404347

SEJARAH SULTAN AGUNG HANYAKRA KUSUMA

SEJARAH SULTAN AGUNG HANYAKRA KUSUMA.


Dening Dr Purwadi M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA. 

A. Narendra Negari Mataram. 

Nlesih sejarah dalem para nata ing Negari Mataram. Sayektos negari Mataram punika sambetipun kraton Pajang, Demak, Majapahit. Trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih.
Nata ingkang jumeneng ing negari Mataram kawiwitan saking Panembahan Senopati tahun 1582 – 1601. Kalajengaken Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati tahun 1601 – 1613.

 Kraton Mataram salajengipun dipun pandhegani dening Sinuwun Sultan Agung Hanyakra Kusuma. Miyos dinten Jum’at Legi tahun Jimakir 1514 utawi 14 November 1593. Kanthi asma timur Gusti Raden Mas Jatmika utawi Raden Mas Jolang. 


Kanjeng Sultan Agung Hanyakra Kusuma saestu narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Jumeneng nata wiwit tahun 1613 ngantos 1645.
Nalika ngasta bang-bang pangalum-aluming praja, negara Mataram ngalami jaman kencana rukmi. Kraton Mataram saged winastan negari ingkang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

 Kawula dasih ing gunung ngagunung, desa ing ngadesa, kutha ing ngakutha sami ayem tentrem, mirah sandhang pangan papan. Kanjeng Sultan Agung dados punjering pangayoman.
Ing babagan tata praja, Kanjeng Sultan Agung Hanyakra Kusuma kasebat narendra guna ing ngaguna, tan ngundhak gunaning jalma.

 Wiwit tahun 1614 panjenenganipun sang nata sesambetan memitran kaliyan bupati Bang Wetan, Kasultanan Cirebon, Kasultanan Banten, Kasultanan Palembang, Kasultanan Banjar  Kalimantan miwah Kasultanan Deli Serdang. Negari Mataram jeneng anempuh bebasan gedhe obore, padhang jagade dhuwur kukuse, adoh kuncarane, ampuh kawibawane sedaya sami kayungyun dening pepoyaning kautaman.

Pangawikan satataning panembah jati kababar dening Sinuwun Sultan Agung lumantar Serat Sastra Gendhing. Isinipun mratelakaken unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa. Kitab Sastra Gendhing karumpaka tahun 1627, kinarya wulangan wejangan wedharan kangge putra wayah, sentana tuwin nara praja. Ing pangangkah gesang sangsaya terang trawaca miturut angger-anggering kautaman. 

Tembang sinom ing ngandhap punika petikan saking serat Sastra Gendhing.

Lumaraping puspa warsa, sumunar amartani, kababar arum kang ganda, kabengkas ing warsa sari, sakehing srana kengis, sinawung sarkara hayu, yeku ta sanepannya, wimbani sasmita murti, kang tinunggwing momong momor momot driya.

B. Pananggalan Tahun Jawi. 

Jumbuhing pananggalan surya sengkala miwah candra sengkala murih guyubing bebrayan. Kanjeng Sinuwun Sultan Agung netepaken tata cara titi mangsa enggal. Pananggalan surya sengkala adhedhasar tahun Saka. Dene pananggalan candra sengkala adhedhasar tahun Qomariah.

 Kalih-kalihipun lajeng dipun ripta kanthi laras liris. Liripun sedaya warga sami suka rena nyengkuyung kalender Sultan Agungan.

Santosaning negari menawi kasengkuyung dening gancaring wulu pametu. Amila Sinuwun  Sultan Agung ambangun bandaran megah, nami pelabuhan Tanjung Emas. Bandaran ageng winangun ing kutha Semarang. 

Menggah ingkang kajibah mandhegani pelabuhan Tanjung Emas kadhawuhan Tumenggung Bahureksa. Saben wulan Tumenggung Bahureksa atur pelapuran dhumateng Kanjeng Ratu Batang, prameswari dalem Sinuwun Sultan Agung. 

Pelabuhan Tanjung Emas ingkang kabangun tahun 1629 anjalari negari Mataram tambah gemah ripah. Dedagangan gancar lelayaran lancar. Rinten dalu anglur dumelur, awit tan ana sangsayaning margi.

Surud dalem Kanjeng Sinuwun Sultan Agung rikala dinten Jum’at Legi  Tahun Jimakir utawi tahun 1645 Masehi. Sumare ing Pajimatan Luhur para nata Imogiri.

Nata Mataram nomer tiga tahun 1613 – 1645, Sinuwun Sultan Agung sampun amarisi patuladhan tumrap sadhengah warga bangsa. Kasusastran, kabudayan, kasusilan lan kenegaraan jaman Sinuwun Sultan Agung tetep basuki lestari.

Kaserat dening Dr Purwadi M.Hum, 
Ahad Wage, 2 Sapar utawi 20 September 2020. Hp 087864404347

PUJANGGA AGUNG PAMETRI BUDAYA ADI LUHUNG

PUJANGGA AGUNG 
PAMETRI BUDAYA ADI LUHUNG

Dr. Purwadi, M.Hum.

Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA. Hp 087864404347

A. Wewarah Becik. 

Kabudayan Jawi sampun lumampah kanthi basuki lestari. Kathah peninggalan sejarah ingkang asung wewarah. Ing pangajab bebrayan Jawi tambah ayem tentrem. Wiwit saking kutha ing ngakutha, dhusun ing ngadhusun, gunung ing ngagunung, sami gadhah gegayuhan luhur. 

Desa mawa cara, negara mawa tata. Paugeran kala wau dipun rungkebi saestu dening tiyang Jawi. Wulangan, wejangan, wedharan, kababar saking tiyang sepuh kanthi nak tumanak, run tumurun. Sedaya warga kagungan pangajab gesang ingkang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Karaton Kahuripan, Jenggala, Daha, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, Paku Alaman sayektos arum kuncara. Kasusastran, kesenian tata praja, panembah jati, saestu ngemu suraos budaya adi luhung. Liripun magepokan kaliyan udhu panemu ngantos dumugi telenging kalbu.

Wondene kagunan edi peni magepokan kaliyan suwasana kaendahan, karawitan, pedhalangan, beksan, kethoprak, wayang wong sumebar ngrembaka ngrenggani tanah Jawa. Amila nami jamak limrah, menawi kabudayan Jawi kasusra ing saindhenging jagad raya.

Rikala tahun 1112 Kanjeng Sinuwun Prabu Airlangga paring dhawuh dhumateng Empu Kanwa. Raja Kahuripan menika ngersakaken rumpakan kakawin Arjuna Wiwaha. Wosing gati yasan Empu Kanwa mratelakaken labuh labet pahlawan agung. Nami Raden Arjuna ingkang ngrampungi damel mbengkas dur angkara murka. Prabu Niwata Kawaca lebur saking lumahing bumi. Cariyos Arjuna Wiwaha kawentar dados lampahan Begawan Ciptowening utawi Mintaraga. 

B. Reriptan Luhur. 

Suluk Sunan Bonang medharaken piwucal luhur Wali Sanga. Rinumpaka tahun 1482 jaman Kasultanan Demak Bintara. Kanjeng Sunan Kalijaga yasa Kidung Rumeksa ing Wengi.


Dhandhanggula

Ana kidung rumeksa ing wengi
teguh ayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
miwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah mring mami
guna duduk pan sirna

Menggahing bebrayan Jawi serat kekidungan, warisan Sunan Kalijaga saged kinarya tulak balak. Suker sakit tartamtu sumingkir. Pangeran Karanggayam paring wejangan arupi Serat Nitisruti. Kagem para nayakaning praja pangembating negari, wulangan kaprajan cocok sanget. Kitab Nitisruti karumpa tahun 1553 nalika Sultan Hadiwijaya jumeneng nata ing negeri Pajang.

Kanjeng Sultan Agung medhar kawruh kebatosan lumantar serat Sastra Gendhing. Babaran satataning panembah jati, sambang sambung srawung tulung tinulung dados gegebenganing tugas Jawi. Kanjeng Sultan Agung ngasta pusaraning adil tahun 1613 – 1645.

Prameswari nata Mataram Kartasura Sinuwun Paku Buwana I, Kanjeng Ratu   Mas Balitar, ngrumpaka serat Ambiya. Kanjeng Ratu Mas Balitar winastan mustikaning putri, tetungguling widodari. Dhasar sulistya ing warna, karengga ing busana, wasis ing samukawis. Katelah Ratu pepundhening tanah Jawi. Hambok bilih lekas ingkang luhur kala wau saged kinarya patuladhan.

Karaton  Surakarta Hadiningrat kagungan pujangga misuwur. Yasadipura nyerat lampahan Dewaruci. Raden Ngabehi Ranggawarsito ngrumpaka serat Pustaka Raja Purwa tahun 1843. Serat Pustaka Raja Purwa dados wacan wigatos ingkang mratelakaken sejarah kabudayan Jawi. Kapustakan kala wau minangka landhesan ombaking kabudayan Jawi ing jaman kawuri.

Sinuwun Paku Buwana IX ngripta serat Warni Warni tahun 1867. Kapitayan, kamanungsan, kasusilan dibabar kanthi gamblang trewaca. Jaman kencana rukmi kaasta dening Sinuwun Paku Buwana X ingkang ngripta Serat Panitibaya. Panjenenganipun sang nata kawentar sinebat narendra gung binathara, ambeg adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana.  

Memetri Sejarah Kabudayan Jawi kanthi sesanti:
rum kuncaraning bangsa dumunung hing luhuring budaya

SERAT NITISRUTI YASAN PANGERAN KARANGGAYAM PUJANGGA KRATON PAJANG

SERAT NITISRUTI
YASAN PANGERAN KARANGGAYAM
PUJANGGA KRATON PAJANG


Dr. Purwadi, M.Hum; Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA

A. Peguron Tlatah Pengging

Kraton Pajang dipun pandhegani dening Kanjeng Sultan Hadiwijaya wiwit tahun 1546. Asma timur Mas Karebet utawi Jaka Tingkir. Ingkang rama peparab Ki Ageng Kebo Kenanga, murid Syekh Siti Jenar. Ki Ageng Kebo Kenanga ugi katelah Ki Ageng Pengging.

Dene ingkang ibu nama Ratu Raga Warih, putri Bathara Katong Bupati Ponorogo. Ki Ageng Pengging putra Adipati Handayaningrat patutan kaliyan Kanjeng Ratu Pembayun. Putri Sinuwun Prabu Brawijaya V punika saestu wasis ing samukawis. Saged winastan mustikaning putri, tetungguling widodari. Jaman kraton Majapahit manggih kencana rukmi, Kanjeng Ratu Pembayun dados sekar kedhaton ingkang misuwur.

Jaka Tingkir nglintir keprabon Kasultanan Demak Bintara. Prameswari dalem Sultan Pajang kapernah putri Sultan Trenggana, narendra Demak tahun 1523 - 1541. Kinasih Kanjeng Ratu Mas Cepaka. Jaka Tingkir  utawi Sultan Hadiwijaya kawawas saking alur rama lan ibu sayektos trahing kusuma, rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih.

Saksurudipun Ki Ageng Pengging, Mas Karebet dipun emong kaliyan Nyi Ageng Tingkir. Amila lajeng sinebat Jaka Tingkir. Mitra sapeguron Ki Ageng Pengging sami cancut taliwanda ndherek nggulawenthah Jaka Tingkir. Kadosta Ki Ageng Sela, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Pringapus, Ki Ageng Karanglo, Ki Ageng Banyubiru. Para murid Syekh Siti Jenar lan Kanjeng Sunan Kalijaga punika kasusra priyagung ingkang kebak  ngelmu sipating kawruh. 

Wejangan para dwija minulya dados sanguning gesang tumrap Jaka Tingkir.
 Rinten dalu Jaka Tingkir mahas ing ngasepi, manjing wana wasa, tumuruning jurang terbis. 

Lelana ing madyaning wana gung liwang liwung, kang gawat kaliwat-liwat, angker kepati-pati. Jaka Tingkir lara lapa tapa brata, megeng napas mbendung swara. Ana ganda tan ingambu, ana rupa tan den dulu.

Nanging cipta sasmita anjalari sedaya panuwun kabul. Apa kang sinedya teka, apa kang pinuji dadi. Jumbuh kang ginayuh. 

Jaka Tingkir kewahyon, kuwat drajat pangkat, semat. Para guru ingkang ndherek nggulawenthah suka ing galih. Jaka Tingkir tumuli anglenggahi dhampar kencana ing Pajang. Dipun sengkuyung dening Kanjeng Ratu Kalinyamat, ambawani Tanah Jawi. 

Perlu kawuningan bilih Kanjeng Ratu Kalinyamat menika putri Sultan Trenggana narendra gung ing kraton Demak Bintara. Rikala tahun 1536 - 1569    mandhegani kadipaten Jepara. 

Rehning ratu 
Kalinyamat punika pangarsa kadipaten ing sugih brewu, mila dados papan pangaupan. Pangeran Karanggayam ingkang ngripta Serat Nitisruti ugi kaparingan redana murih gancaring pakaryan.

Dhandhanggula

Memanising wasita kaesthi. Nitisruti kang sinudarsana.
tinulad ing sapantese.
pinetan kang pikantuk. lan jamaking jaman samangkin. tujuning kemajengan asedya arjayu. yuwananing nuswa jawa. ywa kongsi kalantur lantur kawuri. 
kewraning pangawikan.

Nguri-uri para parameng kawi. 
kawileting ring pangawikan. 
kang mikane  ing kajaten. temah katrem katungkul. 
kanikmatan kawruh ing pati. dadya kadunyanira. kawuri kalantur. awit datan anggrahita. marma mangkya karsaning sarjanadi. binudi mrih widagda.

Widada kadunyan ingupadi. bangkit dadya luhuring darajat. mring kapraptan sakajate. 
nanging aywa kalimput. tilar talu tataning nguni. 
nitisruti tinilar. 
talesing sedyayu. 
supadya tancep ing cipta. aywa oncat careming carita Jawi. mangkono kang wasita.

B. Ambawani Tanah Jawi

Murih jejeging pranatan negari, Pangeran Karanggayam kawisuda minangka pujangga kraton Pajang tahun 1547. Kairing mawi gendhing ketawang Gandamastuti laras pelog pathet nem. Wisudan kapujanggan katingal regeng ngengreng. 

 Pangeran Karanggayam tumuli kapatah ngripta serat Nitisruti. Isinipun babagan pituduh satataning panembah, raos pangraos, kapribaden, bebener, panggautan, pangaupan, tata praja, salaki rabi, bebrayan, sambang, sambung, srawung, tulung tinulung. Tiyang satlatah Pajang sami mangestu amituhu.

Nlesih sejarah pujangga jawi. Pangeran Karanggayam taksih turun darah Kapujanggan Kraton Majapahit. Kang eyang peparab Empu Tantular, pangripta Kitab Sutasoma tahun 1354. Dipun tlesih manginggil lajeng tedhak turun Empu Panuluh pujangga kraton Daha Kediri tahun 1238. Urut jaman kina dugi Empu Kanwa pujangga kraton Kahuripan tahun 1060. Darah kapujanggan nak tumanak run tumurun dumugi Pangeran Karanggayam pujangga kraton Pajang.

Serat Nitisruti ingkang dados kaca benggala sedaya nayaka sentana lan kawula Pajang tahun 1552 dipun tedhak. Saben kadipaten kaparingan gangsal cithakan. Serat Nitisruti minangka sumbering kapustakan Jawi. Para bupati pesisir, bupati Bang Wetan lan bupati Bang Kilen, maos kanthi  titi permati.

 Waosan Serat Nitisruti ing sisih kilen mapan ing tepining bengawan Serayu. Lajeng pindhah ing tlatah Panjer Kebumen. Sakmenika dados kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen. 

Megatruh

Milanipun caraning jaman rumuhun. 
kathah ingkang para mantri. mangsah prang pejah kadulu. 
dene kang mangkono yekti. 
tinulat pakewoh.

Wit wadyanya pindha kuthuk ting caranguk.
tinilaring rena anis.
apuwara tanpa tuju.
lir kali damaring nagri.
muhung tumindak sapakon.

Tanpa budi amardi dayane kalbu.
ing wekasan nguciwani. keh wewulang duk ing dalu. kang samya kawrating tulis. 
amamarah kang kinaot.

Bab ing nistha madya myang katamanipun. 
para mantri lir ing ngarsi. kang manuratan anggayuh. 
apa wandan tau udani. mring kweh ing kintaka kaot.

Mangkya lamun samya kapanudyeng kayun. kaparenga nguningani. 
mitha utamaning idhup. myang wrin purwaning dumadi. 
mrih widada praptaning don.

Kumandhanging Sekar megatruh mawi genderan laras pelog. Lajebg pambiwaraning Serat Nitisruti tebih lan wiyar sanget.

 Saben Slasa Kliwon ing astana Sastrawulan utawi Trowulan Mojokerto wiwit tahun 1562 dipun adani sarasehan. Para pendherek Siti Jenar gadheng renteng kaliyan warga trah Empu Prapanca maos sastra piwulang kagem ngenggar-enggaring penggalih.

Rikala dinten Jumat Legi ing puncaking gunung Tidar ugi dipun sengkuyung oncek-oncek kawruh kina. Tahun 1563 pendherek Syekh Subakir ngaturi rawuh Pangeran Karanggayam saperlu ndhudhah ajaran agami Budha, ingkang wonten sambetipun kaliyan candi Borobudur.

Pepanggihan ing ereng-ereng gunung Lawu kalajengaken ing kali Ketangga dumados tahun 1564. Pangeran Karanggayam ngendika ngelmu pangawikan, sangkan paraning dumadi lan manunggaling kawula Gusti. Babaran ngelmu kasampurnan kalawau, sairip kaliyan wedharan Syekh Siti Jenar ingkang kabesut alus. 

Rembag kasepuhan ugi dipun adani ing puncaking Saptaharga, inggih gunung Murya. Kepareng rawuh guru suci ing tanah Jawi, Kanjeng Sunan Kalijaga, Waliyullah menika mbabar wosing panembah jati. Pangeran Karanggayam pancen siswa kinasih Kanjeng Sunan Kalijaga. Saben tanggal 27 Sura ing puncak Saptaharga utawi Wukiratawu katindakna wulang-wulang kejawen. Kawiwitan tahun 1565.     

Pucung

Mring wong luput den agung aksamanipun. 
manungsa sapraja. 
pancen tyase supadya sih. 
pan mangkana wosing tapa kang sanyata.

Yen amuwus ywa umrus rame kemruwuk.
brabah kabrabeyan. 
lir menco ngoceh ngecuwis. 
menek lali kalimput kehing wicara.

Nora weruh wosing rasa kang winuwus. 
tyase ketambetan. 
tan uninga ulat liring. 
lena weya pamawase ciptamaya. 

Dene lamun tan miraos yen amuwus. 
luwung amendela. 
nanging ingkang semu wingit. 
myang den sumeh ing pasemon kang jatmika.

Yen nengipun alegog legog lir tugu. 
basengut kang ulat. 
pasemon semu anginggit. 
yen winulat nyenyengit tan mulat driya.

Kang kadyeku saenggon enggon kadulu. 
ngregedi paningal. 
norangresepate ati. 
nora patut winor aneng pasamuwan.

Ulat iku nampani rasaning kalbu. 
wahyaning wacana. 
 pareng lan netya kaeksi. 
kang waspada wruh pamoring pasang cipta.

Wit wosipun ngagesang raosing kalbu. 
kumedah sinihan. 
ing sesamaning dumadi. 
mung purwanya sinihan samaning janma.

Nadyan ratu tetep jalma kang satuhu. 
nanging Sri Narendra. 
iku pangiloning bumi. 
enggonira ngimpuni siking manungsa.

Mapan sampun panjenenganipun kang Sinuwun.
sinebut narendra.
ratuning kang tata krami. 
awit dennya amenaki tyasing janma

Kang kawengku sajagad sru kapiluyu. 
kelu angawula. 
labet piniluta ing sih. 
ing wusana penuh aneng pasewakan.

C. Gegulang Dhiri Mesu Budi

Isinipun serat Nitisruti ugi kababar ing Kayangan Dlepih Tirtomoyo Wonogiri tahun 1566. Papan menika wingit sanget. Pangeran Karanggayam kagungan jangka bilih wonten titah pinunjul ingkang pikantuk wahyu keprabon saking tlatah Dlepih Kayangan. Saestu Panembahan Senapati nampi nugraha ing Kayangan Dlepih. Panembahan Senapati jumeneng nata ing Mataram tahun 1582 – 1601. 

Para nata ing Mataram salajengipun nyerat lan nedhak Serat Nitisruti. Ing pangangkah murih rahayu sagung dumadi. Para pujangga agung nedhak lan mulat lekasipun Pangeran Karanggayam. Pujangga Yasadipura tahun 1746 mencaraken kasusastran Jawi adhedhasar warisan Pajang.

Mijil

Ulah budi udaling lelungit. 
sira den waspaos. 
kudu awas waskitha ing tyase. 
wruh semuning panuksma kang remit. 
marmanta rasandi
saduning rumuhun.

Pra linangkung miwah among tani. 
ingkang andhap asor. 
ingesoran sasolah bawane. 
anoraga dening anuruti. 
saosiking janmi. 
sabda wacana rum.

Solah tingkah karem tyas tan yekti. 
satemah salah don. 
tilar tata kramane rinemeh. 
yen mangkono wekasaning wuri. 
tan wus sira keni. 
kinambung ambek dur.

Rerepan tembabg mijil Serat Nitisruti menika kerep ngumandhang ing awang-awang. Umbul Pengging ingkang bening kinclong-kinclong mimbuhi swasana asri anglam-lami. Tanah ingkang subur anjalari para warga gesang makmur. Sedaya rumaos muju, para pangarsa tlatah Pengging pikantuk kanugrahan ageng luhur. Wondene pujangga asung sembur uwur tutur.

Pangeran Karanggayam sampun paring piwulang ingkang wijang terang padhang. Sejarah tanah Jawi kajen keringan ing salumahing bumi. Perlu lestari kanthi nggegulang dhiri mesu budi.

Dr. Purwadi, M.Hum; 01 Oktober 2020
Jl. Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta,hp 087864404347

SEJARAH PRABU SILIWANGI

SEJARAH PRABU SILIWANGI.  Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA Hp: 0878 6440 4347.  A. Berdirinya Istana ...